Lomba Memanah Tradisional Yogyakarta Jemparingan , Kok Masih Banyak Peminatnya ?

photo author
AB Soleh, TitikTemu.co
- Kamis, 6 Juni 2024 | 13:00 WIB
Dalam rangka Hadeging Kadipaten Pakualaman ke-212 tahun, lomba Jemparingan Yogyakarta pun ikut digelar sarana untuk mengolah rasa dan karsa.(Pemprov Yogyakarta)
Dalam rangka Hadeging Kadipaten Pakualaman ke-212 tahun, lomba Jemparingan Yogyakarta pun ikut digelar sarana untuk mengolah rasa dan karsa.(Pemprov Yogyakarta)

TITIKTEMU.COJemparingan merupakan olahraga panahan tradisional asal Yogyakarta yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb). Olahraga ini pada awalnya hanya dilakukan di kalangan keluarga Kerajaan Mataram hingga dijadikan perlombaan di kalangan prajurit kerajaan.

Dalam rangka Hadeging Kadipaten Pakualaman ke-212 tahun, lomba Jemparingan Yogyakarta pun ikut digelar sarana untuk mengolah rasa dan karsa.

“Makna khususnya jemparingan yakni sebagai olah raga, olah rasa, dan olah karsa. Kita berlatih untuk mengatur diri sendiri, mengenai bagaimana cara kita untuk mengalahkan diri kita sendiri karena sering distraksi itu datang dari diri kita sendiri,” ucap BPH Kusumo Bimantoro Ketua Panitia Hadeging Kadipaten Pakualaman. 

Baca Juga: Panah Tradisonal Jemparingan Berhadiah Jutaan Rupiah

Berbeda dengan memanah pada umumnya, jemparingan yang berasal dari kata jemparing berarti anak panah ini dilakukan dengan duduk bersila. Pemanah jemparingan gaya Mataram tidak hanya memanah dalam kondisi bersila, namun juga tidak membidik dengan mata. Busur dalam jemparingan diposisikan mendatar di hadapan perut sehingga bidikan panah didasarkan pada perasaan pemanah.

Gaya memanah tersebut sejalan dengan filosofi jemparingan gaya Mataram yaitu pamenthanging gandewa pamanthenging cipta yang bermakna bahwa membentangnya busur seiring dengan konsentrasi yang ditujukan pada sasaran yang dibidik. Filosofi ini dalam kehidupan sehari-hari mempunyai pesan agar manusia yang memiliki cita-cita hendaknya berkonsentrasi penuh pada tujuan tersebut agar cita-citanya dapat terwujud.

Filosofi tersebut mengingatkan bahwa dalam meraih harapan, musuh utama manusia adalah dirinya sendiri. Mengenai seberapa mampu manusia mengarahkan rasa dan karsanya, segenap hati penuh konsentrasi kepada tujuan yang ingin dicapai.

Baca Juga: Disporapar Gelar Pelatihan Jemparingan di Desa Wisata Kandri Semarang. Olahraga Ini Mementingkan Rasa..

“Memang jemparingan selalu dikenal oleh orang-orang yang sudah berumur. Akan tetapi, tahun demi tahun kita berusaha melakukan pengenalan, kita melakukan sosialisasi melalui acara-acara seperti ini, melalui acara-acara, lomba-lomba, dan sayembara-sayembara jemparingan untuk mengenalkan jemparingan kepada generasi-generasi muda, supaya regenerasi. Regenerasi pengembangan dan pelestarian budaya jemparingan,” jelas BPH Kusumo Bimantoro.

Abdi Dalem Pura Pakualaman Urusan Kapanitran KMT Sestrodiprojo menyampaikan, jemparingan juga khas dengan busana yang harus dikenakan. Dimana pemanah jemparingan diwajibkan untuk memanah dengan mengenakan pakaian daerah masing-masing, seperti busana pranakan atau surjan, apabila berasal dari Jawa.

Busur yang digunakan dalam jemparingan sendiri disebut dengan gandewa. Sementara sasarannya bukanlah lingkaran, melainkan berupa silinder kecil yang disebut wong-wongan atau bandul yang mencitrakan orang yang sedang berdiri. Bentuknya silinder tegak sepanjang 30 cm dengan diameter sekitar 3 cm. Sekitar 5 cm di bagian atas diberi warna merah yang dinamakan molo atau sirah (kepala). Kemudian bagian bawah diberi warna putih dan dinamakan awak (badan).

Baca Juga: Festival Jathilan Warisan Budaya Takbenda DIY, Ini Jadwal Dan Tempat Acaranya

“Jadi sasaran jemparingan itu berupa bandul. Kalau merah itu nilainya 3, itu dianggap kepala. Yang badan itu yang putih, itu nilainya satu. Setiap rambahan atau ronde istilahnya, itu anak panahnya cuma 4. Dikalikan 20 rambahan atau 20 ronde, jadi orang itu memanah 80 kali,” urai KMT Sestrodiprojo.

KMT Sestrodiprojo pun menyebutkan, lomba Jemparingan Mataraman yang digelar dalam rangka Hadeging Kadipaten Pakualaman ke-212 ini sendiri diikuti 880 peserta yang terdiri dari berbagai kalangan usia, mulai dari anak-anak hingga dewasa. Selain dari lokal DIY, para peserta berasal dari Jawa, seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.

 

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: AB Soleh

Sumber: Pemprov Yogyakarta

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X