Sudirman, Sosok Dibalik Piala Bergengsi Beregu Cabang Olahraga Bulutangkis

photo author
Andi Baskoro Wirawan, TitikTemu.co
- Selasa, 5 Oktober 2021 | 07:20 WIB
Piala Sudirman Turnamen Bergengsi Beregu Cabang Bulutangkis ( Foto : Indonesia.go.id)
Piala Sudirman Turnamen Bergengsi Beregu Cabang Bulutangkis ( Foto : Indonesia.go.id)

 

TITIKTEMU.CO - Badminton atau Bulu tangkis adalah olahraga paling populer di Indonesia setelah sepak bola. Industri bulu tangkis telah berkembang dan menjadi penggerak ekonomi kreatif bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Saat ini tidak kurang dari 2.000 klub bulu tangkis atau perkumpulan bulu tangkis (PB), telah registrasi di Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesis (PBSI). Diperkirakan terdapat sekitar 200.000 bibit muda usia 8-15 tahun yang tersebar di PB yang ada di seluruh Indonesia. Angka ini didapat apabila setiap PB membina rata-rata sekitar 100 atlet muda. 

Jumlah akan semakin bertambah jika ditambahkan klub-klub pemasok atlet-atlet berkaliber dunia seperti PB Djarum, Tangkas, Jaya Raya dan lainnya. Klub-klub ini membina kurang lebih 200-300 bibit muda berbakat.

Baca Juga: China Memastikan Gelar Juara Sudirman Cup 2021 Setelah Tundukkan Jepang

Sudirman, sosok yang tak bisa dilepaskan dengan berkembangnya bulu tangkis yang sekarang menjadi industri besar. Ia adalah Bapak Bulu Tangkis Indonesia dan salah satu pendiri PBSI yang dibentuk di Bandung, 5 Mei 1951 silam.

Mengutip dari buku Sejarah Bulutangkis Indonesia karya jurnalis olahraga senior TD Asmadi dan Eko Djatmiko, Sudirman tercatat dua kali memimpin PBSI, yaitu rentang 1952-1963 dan 1967-1981.

Dalam masa kepimpinan Sudirman itu, Indonesia menjelma menjadi kekuatan paling ditakuti di bulu tangkis dunia. Untuk pertama kalinya Merah Putih ikut putaran final Piala Thomas, 1958 atau tujuh tahun setelah terbentuknya PBSI. 

Ferry Sonneville, Tan Joe Hok, Njoo Kiem Bie, Tan King Gwan, dan Eddy Jusuf adalah para pemain Indonesia yang membuat kejutan di partai challenge, yaitu babak penentu mempertemukan pemenang di partai final dengan juara bertahan. Indonesia membabat juara bertahan Malaysia dengan skor meyakinkan, 6-3.  

Baca Juga: Marc Marquez Akhirnya Berhasil Memenangkan Balapan di MotoGP Austin di Circuit of The Americas

Setelah itu, Indonesia menjadi langganan juara Piala Thomas dan menenggelamkan pamor malaysia sang jawara bulu tangis dunia.  Lambang supremasi bulu tangkis beregu putra ini hingga 1979 telah menjadi milik Indonesia sebanyak tujuh kali, bahkan dari 1994-2002 secara beruntun Indonesia membawa pulang piala Thomas.

Pada era Sudirman, bermunculan pahlawan-pahlawan bulu tangkis ternama di antaranya sang legenda Rudy Hartono, pemilik delapan gelar All England.

Indonesia juga mampu merebut Piala Uber, lambang supremasi bulu tangkis beregu putri dunia, di mana piala itu diboyong pertama kali pada 1975 oleh Imelda Wiguna dan kawan-kawan. Setelah 1975, Merah Putih dua kali memboyong Piala Uber, yaitu 1994 dan 1996.

Reputasi pria kelahiran Pematangsiantar, 22 April 1922 yang juga Bapak Farmasi Indonesia itu tak hanya dikenal di percaturan bulu tangkis nasional saja. 

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Ersha

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X