olahraga

Drama Kursi Kosong Timnas Indonesia: Nostalgia STY, Eksperimen Kluivert, dan Masa Depan yang Masih Misterius

Senin, 27 Oktober 2025 | 13:15 WIB
Menyoroti kegagalan Timnas Indonesia di ajang Round 4 Kualifikasi Piala Dunia 2026 di era tim kepelatihan Patrick Kluivert. (Instagram.com/@patrickkluivert9)

Jeje menjelaskan bahwa gaya bermain Indonesia cenderung nyaman dengan sistem defensif rapat sebelum beralih menyerang cepat.

“Perubahan formasi itu berpengaruh besar. Tanpa persiapan matang, ya jadinya kehilangan arah,” kata Jeje.

Baca Juga: 5 Prompt Gemini AI: Bikin Foto Liburan diBali, Meski Aslinya Rebahan di Rumah

Kritik Pedas Andre Rosiade: Taktik Minim, Latihan Berkurang

Andre Rosiade, anggota DPR sekaligus penasihat klub Semen Padang FC, menambahkan kritik yang lebih tajam.

Ia menyebut ada dugaan absennya latihan taktikal di era Kluivert. “Silakan PSSI bantah kalau ini tidak benar. Tapi sampai sekarang belum ada yang menyangkal,” ucap Andre.

Ia bahkan membandingkan langsung metode kerja Kluivert dengan STY yang terkenal disiplin dan teliti. Di era STY, analisis video taktis bisa memakan waktu 2–3 jam per sesi.

Sedangkan era Kluivert? "Hanya 15 menit, lalu selesai," kata Andre.

Garuda Butuh Pelatih atau Butuh Identitas?

Isu pelatih Timnas kini bukan sekadar soal memilih nama besar. Kritik Jeje dan Andre sebenarnya membuka fakta lain: Timnas Indonesia sedang kehilangan arah permainan.

Pergantian pelatih tanpa visi yang jelas hanya akan membuat Garuda terjebak dalam lingkaran eksperimen.

Publik kini menanti langkah besar PSSI. Akankah mereka menunjuk pelatih baru dari Eropa?

Atau memilih sosok Asia yang lebih paham karakter pemain Indonesia?

Yang jelas, perubahan tidak bisa hanya kosmetik. Harus dimulai dari filosofi permainan yang jelas dan konsisten.

Kursi pelatih Timnas mungkin kosong hari ini, tapi di balik kekosongan itu terselip harapan besar: masa depan Garuda yang lebih matang dan berani.

Halaman:

Tags

Terkini