TITIKTEMU.CO, Jakarta - Kementerian Pertanian (Kementan) berharap tidak terjadi banjir pada musim hujan yang sesaat lagi segera tiba. Serta kekeringan saat musim kemarau nanti.
Itu karena Kementan menargetkan produksi beras di tahun 2021 sebesar 31,82 juta ton dengan perkiraan konsumsi masyarakat sebesar 29,58 juta ton. Meningkat dibandingkan konsumsi beras masyarakat di tahun 2020 sebesar 29,37 juta ton.
Dengan target dan perkiraan tersebut, Kementan menargetkan surplus beras di tahun 2021 sebesar surplus sebanyak 9,63 juta ton.
Baca Juga: Status PPKM Jawa-Bali Level 3-2, Luhut: Pandemi Covid-19 di Indonesia Makin Terkendali
“Kita berharap tidak terjadi banjir atau kekeringan yang mmebuat pasokan jadi terganggu. Namun di beberapa titik misalnya di Sulawesi Selata, di Wajo kemarin terjadi banjir. Kami sudah identifikasi dan kami berikan bantuan, untuk segera melakukan penanaman ulang di lahan seluas 12.000 hektar. Dan perkiraan dari BMKG aka nada kekeringan di NTT dan NTB. Mudah-mudahan tidak terlalu mengganggu produksi,” ujar Sekretaris Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, Kementerian Pertanian, Bambang Pamudji.
Hal itu disampaikan Bambang Pamudji dalam Diskusi Publik “Pertanian Bantalan Resesi: Resiliensi Sektor Selama Pandemi Covid 19”, yang digelar di Jakarta, Senin (20/9/2021).
Menurut Bambang, untuk meningkatkan ketahanan dan keamanan pangan di Indonesia Kementan juga sudah menentukan arah serta kebijakan di sektor pertanian, di antaranya Food Estate dan upaya mencegah alih fungsi lahan pertanian.
Baca Juga: Pesawat Rimbun Air Jatuh, Kapolres Intan Jaya Duga Angkut Barang Berlebih
Namun Ekonom INDEF Esther Sri Astuti pada diskusi publik yang sama, mengkritisi kebijakan Food Estate yang menurutnya bukan solusi dalam mengatasi persoalan pangan di Indonesia.
Menurut Esther, kebijakan Food Estate idenya memang bagus, tapi masalah pangan di Indonesia butuh solusi yang lebih komprehensif.
“Problemnya kan jelas, bahwa ada masalah perubahan iklim, urbanisasi, masalah teknologi, transisi di sektor pertanian, rantai distribusi pangan yang panjang. Sehingga menurut saya Food Estate ini bukan satu-satunya solusi. Alangkah baiknya jika solusinya lebih komprehensif. Jadi misalnya, ada kolaborasi antara pemerintah, petani, pelaku usaha, dan perbankan,” papar Esther, seperti dikutip dari rri.co.id.
Baca Juga: Kementerian Perindustrian Desak Produsen Rokok Percepat Penyerapan Tembakau Petani
Sepanjang tiga tahun terakhir, Indonesia bisa dibilang berhasil dalam memenuhi kebutuhan pokok pangan masyarakat karena tidak melakukan impor beras, utamanya beras konsumsi masyarakat.
Namun jika bicara dari sisi keamanan, kedaulatan, dan ketahanan pangan, Indonesia harus lebih bekerja keras.
Artikel Terkait
Muhammad Dava Warsyahdhana, Mahasiswa USU Bersyukur Jadi Duta Petani Milenial Kementerian Pertanian
RNI Sinergi dengan Kementerian Pertanian Teken PKS Pengembangan Cadangan Komoditas Hortikultura
Provinsi Banten Raih Penghargaan Abdi Bakti Tani 2021 dari Kementerian Pertanian
40 Keltan di Dharmasraya Terima Bantuan Alsintan dari Kementerian Pertanian RI
Bersama Kementerian Pertanian, Andi Akmal Inisiasi Bimtek Petani Hortikultura