"Nggak. Nggak ada yang boleh membawa Dania pergi. Dia amanah dari kakakku. Dia akan terus bersamaku. Jangan bawa dia pergi." Aku beranjak dari dudukku. Aku pun bergegas masuk ke dalam rumah, mengunci pintu ruangan utama, mengabaikan Damian yang masih berada di teras.
"Bunda. PR Dania sudah selesai."
Baca Juga: Diputus Kontrak Oleh Real Madrid, Gareth Bale Dikabarkan Diburu Empat Klub Liga Premier Inggris
Aku terkejut ketika mendengar suara Dania. Aku segera menggendong tubuh Dania dan membawanya ke kamar. Aku takut kehilangan Dania. Aku sudah kehilangan ibu, ayah, kak Diana. Kali ini aku tak mau kehilangan Diana.
"Bunda kenapa?" tanya Dania.
Aku masih terdiam, memeluk Dania dan menciumi kepalanya.
Ya Allah, jangan pisahkan aku dengan Dania. Dania amanah kakakku. Aku tak mau kehilangan Dania.
*
Sejak malam itu aku tak bisa tidur nyaman. Pikiranku hanya tertuju pada Dania. Entah kenapa aku merasa takut kehilangan Dania. Hanya Dania yang kupunya saat ini. Aku pun masih teringat dengan ucapan Damian. Dia dan kakaknya akan mengambil Dania dariku.
Terdengar suara ketukan pintu. Aku bergegas menuju ruang tamu meninggalkan Dania yang sedang terlelap tidur di kamar. Sebelum membuka pintu, aku memastikan orang yang datang untuk menemuiku.
Aku segera menutup tirai ketika mengetahui orang yang berada di teras rumah. Aku takut menemuinya. Aku takut jika dia akan menjemput Dania. Aku tidak mau berpisah dengan Dania.
Baca Juga: Jadwal Liga Inggris Liverpool 2022-2023, Pasukan Jurgen Klopp Hadapi Laga Mudah di Awal Kompetisi
"Sabrina! Aku tau kamu ada di dalam! Keluarlah! Aku ingin bicara baik-baik denganmu!" Damian berseru di balik pintu.
Aku khawtir jika Dania akan terbangun.
"Sabrina!!" Damian menyerukan namaku.