TITIKTEMU.CO SEMARANG – Upaya untuk menurunkan angka stunting (gagal tumbuh akibat kurang gizi) nasional menjadi perhatian serius pemerintah.
Komitmen Presiden Joko Widodo yang menargetkan penurunan angka stunting nasional di angka 14 % tahun 2024 mendatang, bukanlah angan-angan kosong belaka.
Baca Juga: Pemerintah Umumkan Karantina Tiga Hari Bagi PPLN, Berlaku Mulai Selasa 1 Maret 2022
Baca Juga: Inalilahi Wainalilahi Rajiun, Arifin Panigoro Meninggal Dunia di Amerika Serikat
Komitmen semua pemangku kepentingan untuk percepatan penurunan angka stunting yang diamanahkan kepada Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), perlu mendapat dukungan pemerintah daerah.
Berdasar data Jawa Tengah merupakan satu diantara 12 provinsi prioritas yang memliki prevalensi stunting tertinggi.
Baca Juga: Perum BULOG Bareng BKKBN Berkomitmen Turunkan Angka Stunting di Jateng
Berdasarkan Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) Tahun 2021, provinsi itu masih memiliki 19 kabupaten dan kota dengan kategori kuning (prevalensi 20 sampai 30 persen).
15 kabupaten/kota lainnya berkategori hijau dengan prevalensi di kisaran 10 hingga 20 persen. Sementara satu kabupaten lainnya berstatus biru, yang berarti di bawah prevalensi 10 persen.
Jika dirangking berdasar prevalensi terbesar, lima kabupaten terbesar angka stuntingnya berturut-turut Wonosobo, Kabupaten Tegal, Brebes, Demak dan Jepara.
Baca Juga: Apa sih Buraq yang Menjadi Tunggangan Nabi Muhammad SAW Saat Isra Miraj? Begini Penjelasan UAH
Sementara lima kabupaten yang memiliki prevalensi stunting terendah adalah Grobogan, Kota Magelang, Wonogiri, Kota Salatiga dan Purworejo.
Agar sesuai dengan target penurunan angka stunting 14 persen, maka laju penurunan stunting per tahun haruslah di kisaran 3,4 persen.
Dengan melihat kondisi aktual yang terjadi saat ini, Pemprov Jawa Tengah ditagih komitmennya di tahun 2024 agar tidak ada kabupaten dan kota di wilayah itu yang berstatus merah.