nasional

WASPADA BAHAYA CUACA PANAS EKSTREM BAGI ANAK Oleh Ramadhan Wibisono

Rabu, 31 Mei 2023 | 07:00 WIB
Pyensi dampak perubahan iklim pada berbagai sektor (Kementerian Lingkungan Hidup Kehutanan)

Sementara itu dari kajian UNICEF, anak-anak merupakan kelompok paling rentan terdampak perbuahan iklim, terutama suhu panas yang menimbulkan efek negatif pada anak. Sebab, ketahanan tubuh anak belum sematang orang dewasa. Makin sering anak terpapar panas, makin besar resiko mengalami masalah kesehatan.

“Indonesia sangat rentan bencana. Indonesia dianggap memiliki resiko perubahan iklim tinggi bagi anak-anak sehingga menempati peringkat ke-46 dari 163 negara (sepertiga teratas). Bahkan pada tahun 2019, Indonesia memiliki tingkat paparan dan kerentanan tertinggi ke-14 akibat cuaca ekstrem global dan rata-rata kematian tertinggi ke-14 dalam 10 tahun sebelumnya. Polusi udara masuk 10 besar faktor resiko kematian anak di bawah usia 5 tahun yang membunuh sekitar 4 juta anak per tahun.​ Selanjutnya anak malnutrisi yang tinggi dipicu berkurangnya akses makan bergizi akibat gagal panen bahan pangan akibat bencana yang diperparah perubahan iklim,” demikian dijelaskan Lina Sofiani, Spesialis Kedaruratan UNICEF.

Baca Juga: Jalan Kaki Sebagai Obat Ajaib

 

Lina Sofiani, Spesialis Kedaruratan UNICEF dalam workshop jurnalistik yang digelar AJI Indonesia bersama UNICEF di Jakarta, 20 Mei 2023 (AJI Indonesia)

Tidak hanya di Indonesia, anak-anak di kawasan Asia Timur dan Pasifik juga terpaksa bertahan menghadapi bahaya perubahan iklim.

Debora Comini, Direktur Regional UNICEF Asia Timur dan Pasifik, menyampaikan, cuaca ekstrem seperti naiknya suhu dan permukaan laut mengakibatkan jutaan anak terpapar berbagai resiko. Banyak anak dan keluarga mengungsi berjuang bertahan hidup dengan akses terbatas.

Baca Juga: Ribuan Umat Buddha akan Rayakan Waisak 2567 di Candi Borobudur, Dihadiri Bikkhu Mancanegara

“Situasi anak-anak di kawasan Asia Timur dan Pasifik sangat mengkhawatirkan. Krisis iklim mengancam hidup sehingga mereka kehilangan masa kecil tanpa hak tumbuh kembang. Kita memerlukan tindakan mendesak dan kolektif oleh pemerintah, dunia bisnis, dan donor atau relawan untuk mengatasi hambatan utama manajemen resiko bencana dan mengadopsi layanan sosial cerdas iklim agar anak-anak tumbuh di lingkungan yang aman dan sehat,” kata Debora Comini.

Jangan sampai hak anak terenggut masalah dampak perubahan iklim. Upaya mitigasi atau pencegahan bencana adalah tanggung jawab semua pihak. Kita bisa meninjau kembali pembangunan infrastruktur dengan memperhatikan resiko perubahan iklim dan paling mudah menerapkan pola hidup ramah lingkungan.***

 

Halaman:

Tags

Terkini