Apalagi tantangan yang akan dihadapi Kopdes Merah Putih ke depan tidak sederhana. Mereka harus mampu mengelola unit usaha, menjaga kesehatan keuangan organisasi, membangun jaringan pemasaran, hingga menciptakan model bisnis yang berkelanjutan.
Baca Juga: Saat Menteri Tantang Ritel Raksasa: Kopdes Merah Putih Disiapkan Jadi Tuan Rumah di Desa
Semua itu membutuhkan keterampilan manajerial yang spesifik dan terus berkembang.
Hasanuddin berpandangan bahwa pelatihan seharusnya fokus pada kebutuhan nyata pekerjaan. Materi seperti akuntansi koperasi, pengelolaan aset, kepemimpinan organisasi, digitalisasi usaha, dan strategi pemasaran dinilai lebih relevan dibandingkan latihan fisik yang identik dengan pendidikan militer.
Di sisi lain, pemerintah sebelumnya menilai latihan dasar militer dapat membentuk kedisiplinan, karakter kepemimpinan, dan semangat pengabdian bagi para peserta.
Namun kritik yang muncul menunjukkan bahwa publik mulai mempertanyakan keseimbangan antara tujuan pembentukan karakter dan efektivitas penggunaan anggaran negara.
Perdebatan ini semakin menghangat setelah sejumlah pihak meminta evaluasi menyeluruh terhadap desain pelatihan Kopdes Merah Putih. Evaluasi dianggap penting agar program yang digagas untuk memperkuat ekonomi desa benar-benar menghasilkan sumber daya manusia yang siap bekerja sejak hari pertama.
Pada akhirnya, isu ini bukan sekadar soal angka Rp 30 juta per orang.
Baca Juga: Saat Menteri Tantang Ritel Raksasa: Kopdes Merah Putih Disiapkan Jadi Tuan Rumah di Desa
Yang dipertaruhkan adalah bagaimana negara menentukan prioritas dalam membangun kapasitas pengelola koperasi desa. Apakah fokus utama berada pada pembentukan disiplin melalui pendekatan militer, atau pada penguatan kemampuan profesional yang langsung berkaitan dengan pengelolaan usaha?
Jawabannya kemungkinan akan menentukan arah pengembangan Kopdes Merah Putih dalam beberapa tahun mendatang. Karena sebaik apa pun sebuah koperasi dirancang, keberhasilannya tetap bergantung pada kualitas orang-orang yang menjalankannya.***