TITIKTEMU.CO-Kenaikan harga Pertamax belakangan ini membuat banyak pemilik kendaraan mulai menghitung ulang pengeluaran bulanan mereka.
Di tengah biaya hidup yang terus bergerak naik, selisih harga bahan bakar beberapa ribu rupiah per liter terasa cukup besar, terutama bagi mereka yang setiap hari menempuh perjalanan jauh.
Tidak heran jika sebagian pengendara mulai melirik Pertalite sebagai alternatif yang lebih ramah di kantong.
Dengan harga Rp10.000 per liter, Pertalite terlihat menawarkan solusi instan untuk mengurangi biaya operasional kendaraan.
Namun, sebelum buru-buru berpindah jalur, ada satu hal penting yang perlu dipahami: tidak semua mesin dirancang untuk mengonsumsi bahan bakar dengan angka oktan yang lebih rendah.
Sekilas, mengganti Pertamax dengan Pertalite memang tampak seperti keputusan sederhana. Kendaraan tetap bisa dinyalakan, mesin tetap hidup, dan mobil masih bisa melaju di jalan raya.
Akan tetapi, yang tidak terlihat oleh mata justru bisa menjadi persoalan dalam jangka panjang.
Menurut pakar konservasi energi dari Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara ITB, penggunaan bahan bakar yang memiliki angka oktan lebih rendah dibanding kebutuhan mesin berpotensi memicu fenomena yang dikenal sebagai detonasi atau knocking.
Di kalangan pengendara Indonesia, kondisi ini lebih populer dengan istilah "mesin ngelitik".
Baca Juga: Bansos Beras 10 Kg Diperpanjang 3 Bulan, Cek Nama Kamu Masuk 33,2 Juta Penerima?
Fenomena tersebut terjadi ketika campuran udara dan bahan bakar di ruang bakar terbakar sebelum waktunya. Idealnya, pembakaran dipicu oleh percikan busi pada momen yang telah dirancang oleh pabrikan.
Namun ketika angka oktan tidak sesuai kebutuhan mesin, bahan bakar bisa terbakar lebih cepat akibat tekanan dan temperatur yang tinggi.
Akibatnya, proses pembakaran menjadi tidak teratur.