nasional

Ciputat Tangsel Dilanda Suhu 36°C pada April 2026, BMKG Ungkap 5 Penyebab Cuaca Terasa Lebih Panas

Rabu, 29 April 2026 | 20:11 WIB
Ilustrasi April 2026 suhu panas di Ciputat capai 36°C. (Pinterest @berita24jamku)

Ketika awan sedikit, tidak ada lapisan alami yang dapat menghalangi radiasi matahari sebelum mencapai permukaan bumi.

Baca Juga: Setelah 11 Juta Penonton di Bioskop, Film Agak Laen: Menyala Pantiku! Siap Mengguncang Netflix

Akibatnya, sinar matahari langsung menghantam permukaan tanah, jalan raya, dan bangunan.

Permukaan seperti aspal dan beton memiliki kemampuan menyerap panas dengan sangat baik. Setelah menyerap energi matahari, material tersebut kemudian memantulkan kembali panas ke udara di sekitarnya.

Hal ini membuat suhu lingkungan terasa semakin menyengat, terutama pada siang hingga sore hari.

Kondisi perkotaan juga berperan besar dalam memperkuat efek panas.

Kawasan Ciputat yang padat bangunan dan kendaraan memiliki ruang terbuka hijau yang relatif terbatas.

Tanpa pepohonan atau taman yang cukup, panas sulit diserap dan dilepaskan secara alami.

Fenomena ini dikenal sebagai urban heat island, yaitu kondisi ketika wilayah perkotaan memiliki suhu yang lebih tinggi dibandingkan daerah di sekitarnya yang masih memiliki banyak vegetasi.

Selain itu, aktivitas kendaraan juga menambah panas di lingkungan sekitar. Emisi gas buang dari kendaraan bermotor pada jam-jam sibuk dapat meningkatkan suhu mikro di kawasan perkotaan.

Baca Juga: Kampus Terbaik di Jawa Timur Versi THE AUR 2026: Pilihan Cerdas untuk Kuliah Jalur Mandiri

Di sisi lain, Indonesia saat ini juga sedang memasuki masa peralihan musim atau pancaroba, yakni periode transisi dari musim hujan menuju musim kemarau.

Pada masa ini, pergerakan angin cenderung melemah sehingga sirkulasi udara tidak berjalan optimal.

Ketika angin lemah, udara panas yang terperangkap di permukaan bumi tidak mudah bergerak atau tergantikan oleh udara yang lebih sejuk. Kondisi inilah yang membuat suhu terasa semakin tinggi.

Meski fenomena cuaca panas seperti ini masih tergolong wajar di wilayah tropis seperti Indonesia, masyarakat tetap disarankan untuk menjaga kesehatan saat beraktivitas di luar ruangan.

Halaman:

Tags

Terkini