Anak yang pernah dibully cenderung membawa luka psikologis hingga usia 20-an bahkan lebih.
Beberapa studi juga menemukan bahwa mereka memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan mental dan kesulitan beradaptasi dalam kehidupan dewasa.
Yang lebih mengkhawatirkan, dampak ini sering tidak terlihat secara langsung.
Baca Juga: Spoiler One Piece 1181: Duel Imu vs Loki Mengguncang Dunia, Rahasia Joy Boy Mulai Terungkap
Tidak seperti luka fisik yang tampak jelas, luka akibat bullying tersembunyi di dalam pikiran dan perasaan anak.
Mereka mungkin terlihat “baik-baik saja”, padahal sedang berjuang dengan rasa takut, malu, atau rendah diri.
Bullying juga bukan hanya soal ejekan.
Bentuknya bisa beragam, mulai dari dikucilkan, dipermalukan, hingga cyberbullying di media sosial.
Semua bentuk ini memiliki satu kesamaan: membuat anak merasa tidak aman secara emosional.
Karena itu, penting bagi orang tua untuk lebih peka.
Perubahan kecil seperti anak jadi lebih pendiam, mudah marah, atau enggan ke sekolah bisa jadi tanda adanya masalah.
Alih-alih langsung menasihati, langkah terbaik adalah mendengarkan.
Beri anak ruang untuk bercerita tanpa dihakimi.
Bangun rasa aman bahwa mereka tidak sendirian.
Yang juga tidak kalah penting adalah mengajarkan anak tentang empati dan cara memperlakukan orang lain dengan baik.
Karena bullying bukan hanya soal korban, tapi juga tentang lingkungan yang membiarkannya terjadi.
Kesimpulannya, bullying bukan masalah sepele yang bisa dianggap “bagian dari masa kecil”.