Namun, peringatan tersebut tampaknya tidak cukup untuk mencegah eskalasi.
Serangan ke Ras Laffan terjadi setelah sebelumnya Israel menyerang South Pars, ladang gas terbesar Iran yang terhubung langsung dengan Qatar.
Rangkaian aksi ini menandai perubahan pola konflik, dari yang semula fokus pada target militer menjadi menyerang infrastruktur ekonomi strategis.
Baca Juga: Arus Balik Lebaran 2026: Daftar SPBU Alternatif di Tol Semarang–Batang, Hindari Antrean Rest Area
Kerusakan paling krusial dalam serangan ini terjadi pada unit yang dikenal sebagai cold boxes. Fasilitas ini berfungsi sebagai sistem pendingin utama untuk mengolah gas sebelum dikirim dalam bentuk LNG.
Ketika bagian ini hancur, maka seluruh rantai produksi langsung terganggu.
Akibatnya, dampak tidak hanya dirasakan oleh Qatar, tetapi juga merembet ke pasar energi global.
Negara-negara yang bergantung pada pasokan LNG Qatar kini harus bersiap menghadapi potensi lonjakan harga dan kelangkaan pasokan.
Lebih jauh lagi, proyek ekspansi besar Qatar di North Field juga ikut terdampak.
Proyek yang sebelumnya ditargetkan meningkatkan kapasitas produksi secara signifikan kini mengalami penundaan.
Aktivitas di lokasi bahkan dilaporkan terhenti, dan waktu pemulihannya masih belum pasti.
Al-Kaabi memperkirakan bahwa dampak ekonomi dari konflik ini jauh lebih luas dibanding sekadar gangguan energi.
Ia menyebut sektor pariwisata, transportasi udara, hingga perdagangan pelabuhan di kawasan Teluk ikut terpukul.
Dalam pandangannya, jika konflik terus berlanjut, negara-negara di kawasan tersebut bisa mengalami kemunduran ekonomi hingga satu atau dua dekade.
Aktivitas bisnis terhenti, mobilitas menurun, dan kepercayaan investor ikut terganggu.
Di tengah situasi yang semakin kompleks, ketidakpastian juga menyelimuti aspek finansial.
QatarEnergy sendiri belum dapat memastikan apakah kerugian besar akibat serangan ini akan sepenuhnya ditanggung oleh asuransi.