TITIKTEMU.CO - Situasi geopolitik yang memanas di kawasan Timur Tengah mulai berdampak pada perjalanan ibadah umrah.
Pemerintah menyebut lebih dari 14 ribu jemaah umrah Indonesia tertahan di Arab Saudi akibat gangguan penerbangan yang dipicu memanasnya konflik di kawasan Asia Barat.
Menteri Haji dan Umrah Indonesia, Mochamad Irfan Yusuf, mengatakan eskalasi konflik yang memanas sejak akhir Februari 2026 menyebabkan sejumlah negara menutup ruang udara mereka.
Kondisi ini berdampak pada jadwal penerbangan internasional, terutama rute penerbangan yang menggunakan jalur transit di wilayah Timur Tengah.
Akibatnya, proses keberangkatan maupun kepulangan jemaah umrah dari dan menuju Indonesia hingga saat ini mengalami gangguan, salah satunya penundaan penerbangan.
Baca Juga: Konflik Timur Tengah Memanas, Kemenlu Usulkan Penundaan Keberangkatan Jemaah Umrah Sementara
Lebih dari 50 Ribu Jemaah Masih di Arab Saudi
Berdasarkan data pemerintah hingga 11 Maret 2026, masih terdapat 50.374 jemaah umrah Indonesia yang berada di Arab Saudi.
Dari jumlah tersebut, sekitar 14.115 jemaah tertahan sementara karena jadwal penerbangan terganggu. Mereka berasal dari sekitar 1.239 Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU) resmi.
“Benar, jemaan yang masih berada di Saudi. Kemungkinan stranded atau tertahan sekitar 14.115 jemaah dengan total PPIU sebanyak 1.239. Semua PPIU sudah kami panggil,” ujar Gus Irfan.
Menurutnya, penutupan sejumlah ruang udara di kawasan Timur Tengah menyebabkan maskapai harus mengubah rute penerbangan atau bahkan membatalkan jadwal penerbangan tertentu.
Pemerintah Turunkan Tim di Bandara Saudi
Untuk mengantisipasi dampak yang lebih besar, pemerintah melalui Kementerian Haji dan Umrah telah menurunkan tim khusus di Arab Saudi.