TITIKTEMU.CO - Penetapan Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah pada tahun 2026 berpotensi kembali mengalami perbedaan antara pemerintah dan organisasi Islam Muhammadiyah.
Hal ini berkaitan dengan posisi hilal atau bulan sabit muda pada akhir Ramadhan yang secara perhitungan astronomi masih belum sepenuhnya memenuhi kriteria visibilitas hilal yang digunakan oleh negara-negara anggota MABIMS.
Direktur Urusan Agama Islam Kementerian Agama Republik Indonesia, Arsad Hidayat, menjelaskan bahwa berdasarkan perhitungan metode hisab, posisi hilal pada akhir Ramadhan masih berada dalam rentang yang belum ideal untuk dapat terlihat secara astronomis
. Pernyataan tersebut disampaikan Arsad dalam konferensi pers yang digelar di Kantor Kementerian Agama, Jakarta Pusat.
Menurut Arsad, tinggi hilal di wilayah Indonesia diperkirakan berada pada kisaran 0 hingga 3 derajat. Posisi tertinggi bahkan diprediksi hanya terjadi di wilayah Aceh.
Sementara itu, sudut elongasi atau jarak sudut antara bulan dan matahari diperkirakan berada pada kisaran 4 hingga 6 derajat.
Baca Juga: Iktikaf Ramadhan 2026 Mulai Kapan? Ini Jadwal Malam Ganjil untuk Mencari Lailatul Qadar
Meski dari sisi ketinggian hilal ada kemungkinan mendekati batas minimal, aspek elongasi masih belum memenuhi standar yang telah ditetapkan oleh MABIMS.
Dalam kriteria tersebut, hilal dinyatakan memenuhi syarat visibilitas jika memiliki tinggi minimal 3 derajat dan sudut elongasi setidaknya 6,4 derajat.
Karena kondisi tersebut, kemungkinan besar hilal akan sulit terlihat pada waktu pengamatan akhir Ramadhan.
Hal ini yang kemudian membuka peluang terjadinya perbedaan penentuan 1 Syawal 1447 Hijriah antara pemerintah dan Muhammadiyah, sebagaimana sebelumnya juga terjadi pada penentuan awal Ramadhan tahun ini.
Meski begitu, Arsad menegaskan bahwa keputusan resmi mengenai tanggal Idul Fitri tetap akan ditentukan melalui sidang isbat yang dijadwalkan berlangsung pada 19 Maret 2026.
Baca Juga: Mojtaba Khamenei Jadi Pemimpin Tertinggi Iran, Sosok Kontroversial yang Dibenci AS
Sidang tersebut akan mempertimbangkan berbagai faktor, termasuk hasil pemantauan hilal dari berbagai titik pengamatan di Indonesia.