Salah satu poin krusial yang disoroti Vatikan adalah peran Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Parolin menegaskan bahwa pada tingkat internasional, PBB selama ini menjadi lembaga utama dalam mengelola dan merespons krisis global.
Vatikan mempertanyakan bagaimana posisi Dewan Perdamaian bentukan Trump akan berinteraksi dengan struktur yang sudah ada, terutama PBB.
Apakah akan saling melengkapi, atau justru tumpang tindih dan melemahkan sistem multilateral yang telah berjalan?
Inilah yang disebut Parolin sebagai “poin-poin penting yang perlu dijelaskan.”
Takhta Suci, yang selama ini konsisten mendukung multilateralisme dan dialog lintas negara, tampaknya enggan terlibat dalam inisiatif baru yang berpotensi menggeser peran lembaga internasional yang telah mapan.
Baca Juga: Batik Rp 1,37 Miliar Digondol di JICC, Polisi Kejar Penampung dan Bongkar Jaringan Pencurian
Italia Ikut, Vatikan Menimbang
Menariknya, Italia memilih untuk berpartisipasi sebagai pengamat dalam Dewan Perdamaian tersebut.
Ketika ditanya soal langkah Italia, Parolin mengakui masih ada sejumlah aspek yang membingungkan dan belum sepenuhnya terang.
Ia menekankan bahwa meskipun ada upaya untuk memberikan jawaban atas berbagai pertanyaan, Vatikan tetap melihat adanya isu-isu kritis yang belum terselesaikan.
Kehati-hatian ini mencerminkan pendekatan diplomasi moral yang selama ini dipegang Takhta Suci: tidak tergesa-gesa, tetapi mempertimbangkan dampak jangka panjang terhadap stabilitas global.
Pesimisme atas Situasi Global
Di tengah dinamika tersebut, Parolin juga menyampaikan nada pesimistis terkait perkembangan konflik yang menjadi perhatian dunia.
Ia menyebut belum ada kemajuan nyata menuju perdamaian, bahkan setelah bertahun-tahun upaya dilakukan.