Menyelesaikan Hutang Sebelum Menambah Beban
Melunasi hutang puasa Ramadhan sebelumnya adalah kewajiban yang tidak boleh ditunda karena Allah berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 185 tentang kewajiban mengganti puasa.
Aisyah RA berkata, “Aku masih memiliki hutang puasa Ramadhan dan aku tidak bisa menggantinya kecuali di bulan Sya’ban” (HR. Bukhari dan Muslim), yang menunjukkan pentingnya menyelesaikan tanggungan sebelum Ramadhan tiba.
Menunda tanpa uzur berpotensi mengurangi kesempurnaan ibadah Ramadhan.
Baca Juga: Mana Lebih Untung, Investasi Emas atau Saham? Ini Plus Minusnya, Jangan Salah Pilih!
Al-Qur’an: Sahabat yang Harus Didekati Lebih Awal
Ramadhan adalah bulan Al-Qur’an, sehingga membiasakan membaca dan mentadabburinya sebelum Ramadhan adalah bentuk kesiapan ruhani.
Rasulullah SAW bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya” (HR. Bukhari), yang menegaskan keutamaan interaksi dengan wahyu.
Semakin dekat dengan Al-Qur’an, semakin hidup suasana Ramadhan.
Sedekah dan Hubungan Sosial
Ibnu Abbas RA berkata, “Rasulullah SAW adalah orang yang paling dermawan, dan beliau lebih dermawan lagi di bulan Ramadhan” (HR. Bukhari dan Muslim).
Sedekah, memaafkan, dan menyambung silaturahmi menjadi ibadah sosial yang mempercepat turunnya keberkahan Ramadhan.
Kebiasaan yang Perlu Ditinggalkan
Melalaikan ibadah dan berlebihan dalam makan bertentangan dengan ruh puasa yang bertujuan menahan hawa nafsu.
Rasulullah SAW bersabda, “Tidak ada bejana yang lebih buruk diisi oleh manusia selain perutnya” (HR. Tirmidzi), sebagai peringatan agar hidup sederhana.