Bagi pelaku usaha kecil, keterlambatan pengiriman bisa membuat pelanggan kabur.
Baca Juga: Magang Kemendagri 2026 Dibuka! Kesempatan Ngantor Beneran di Jantung Pemerintahan Selama 3 Bulan
Kenapa ODOL Masih Terjadi?
Masalah ODOL sering muncul karena alasan ekonomi: muatan berlebih dianggap cara tercepat menekan biaya pengiriman.
Sekali jalan, bisa membawa lebih banyak barang. Tapi “hemat” di satu pihak ini justru menciptakan kerugian besar bagi publik.
KDM juga menyoroti bahwa pembiaran ODOL bukan hanya kesalahan pelaku usaha, tapi juga lemahnya penegakan aturan.
Jika pengawasan longgar, pelanggaran akan terus berulang.
Karena itu, ia mendorong penegakan yang lebih tegas, termasuk sejalan dengan arah kebijakan pemerintah pusat menuju Zero ODOL.
Baca Juga: Dewan Perdamaian Versi Trump: Banyak Negara Pilih Mundur Pelan-Pelan daripada Ikut Ribut Global
Solusi Bukan Cuma Larangan, Tapi Ketegasan dan Konsistensi
Mengatasi ODOL tidak cukup dengan slogan. Dibutuhkan tindakan nyata: penimbangan yang aktif, sanksi yang jelas, serta pengawasan rutin di titik rawan.
Industri logistik juga perlu beradaptasi dengan sistem pengiriman yang lebih aman dan legal.
Pada akhirnya, jalan adalah fasilitas publik.
Jika rusak terus, yang menderita bukan hanya pemerintah, tapi juga masyarakat luas. Ketegasan KDM bisa jadi alarm keras: pembangunan tidak boleh kalah oleh pelanggaran yang dibiarkan.***