Di sisi lain, perpindahan kader ini dinilai bisa memengaruhi citra Nasdem.
Peneliti Senior Politik dari BRIN, Lili Romli, menilai eksodus kader berpotensi menimbulkan persepsi publik bahwa Nasdem sedang tidak solid atau sedang menghadapi masalah internal.
Jika persepsi itu berkembang, citra partai bisa ikut terdampak karena publik cenderung menilai partai yang ditinggalkan kadernya sebagai partai yang “sedang goyah”.
Fenomena “Kutu Loncat” Bukan Hal Baru di Politik Indonesia
Meski begitu, Lili Romli menegaskan bahwa perpindahan kader antarpelat partai sebenarnya bukan hal baru.
Dalam politik Indonesia, migrasi elite partai sering dianggap wajar dan lumrah. Bahkan, fenomena ini sering disebut masyarakat sebagai “kutu loncat”.
Penyebabnya pun bisa beragam, seperti:
- kekecewaan terhadap partai lama
- peluang politik yang lebih menjanjikan
- kepentingan ekonomi
- keinginan mendapat posisi strategis
- mencari perlindungan dari patron politik baru
Namun tetap ada risiko: publik bisa menilai kader yang pindah partai sebagai oportunis.
Nasdem Buka Suara: Hormati Pilihan, Klaim Tetap Solid
Menanggapi gelombang perpindahan ini, Wakil Ketua Umum Nasdem Saan Mustopa menegaskan bahwa partainya menghormati pilihan politik setiap kader.
Saan juga membantah bahwa perpindahan kader terjadi karena masalah jabatan atau konflik internal.
Menurutnya, Nasdem tidak memiliki masalah dengan kader yang memilih jalan berbeda.
Terkait mundurnya Rusdi Masse dari Nasdem Sulsel, Nasdem juga sudah menyiapkan pengganti.
Posisi Ketua DPW Nasdem Sulsel kini diisi oleh Saharuddin Arif, Bupati Sidrap yang sebelumnya menjabat Sekretaris DPW Nasdem Sulsel.
Nasdem menegaskan tetap fokus menjaga kekuatan di wilayah timur, khususnya Sulawesi Selatan.