nasional

61 Hari Setelah Banjir, Air Bersih Masih Jadi Barang Mewah Warga Aceh Tengah

Jumat, 30 Januari 2026 | 17:55 WIB
Warga Kampung Jamat, Aceh Tengah mengalami krisis air bersih dua bulan pascabanjir. (Instagram/serta_lia_gali)

Diketahui, kegiatan gotong royong itu dilakukan pada Rabu, 28 Januari 2026.

Warga juga menjelaskan bahwa pipa yang mereka pasang saat ini masih bersifat sementara dan darurat karena belum sempurna.

“Pipa air yang hari ini kami masih pasang bersifat darurat lantaran masih banyak kekurangan,” tulisnya lagi.

Baca Juga: Purbaya Pangkas DBH 69,5%, KDM:“Apa Pun Lah, yang Penting Kita Kerja!

Pipa Sering Hanyut Saat Sungai Meluap

Dalam video, tampak beberapa warga memanggul pipa panjang serta membawa tali sling melewati area sungai yang sedang surut.

Perjuangan mereka tidak mudah karena pemasangan pipa di lokasi seperti itu sangat rentan.

Ternyata, pipa sebelumnya memang pernah dipasang, namun sering kali hilang terbawa arus ketika debit air sungai naik.

“Pipa yang sudah terpasang rentan sekali terbawa arus sungai. Jika air naik sedikit saja, pipa langsung terbawa arus sungai karena pipa yang melewati sungai terpasang tanpa tiang penyangga,” ungkap keterangan unggahan tersebut.

Artinya, pekerjaan warga seperti mengulang dari awal—setiap kali air naik, pipa bisa lenyap lagi.

Aceh Tengah Masih Berstatus Tanggap Darurat

Meski Pemerintah Provinsi Aceh telah menetapkan masa transisi dari darurat menuju pemulihan selama 90 hari mulai 29 Januari 2026 hingga 29 April 2026, kondisi di Kabupaten Aceh Tengah belum sepenuhnya aman.

Kabupaten ini masih berada dalam status tanggap darurat, yang bahkan diperpanjang oleh Bupati Aceh Tengah, Haili Yoga, mulai 30 Januari 2026 hingga 5 Februari 2026.

Perpanjangan dilakukan karena masih ada wilayah yang belum bisa diakses normal. Tercatat 5 desa di Kecamatan Linge dan 3 desa di Kecamatan Ketol masih terisolasi.

Penyebabnya adalah longsor yang menutup jalan serta kerusakan jembatan yang belum pulih total.

Halaman:

Tags

Terkini