Dengan demikian, total ketersediaan daging sapi dan kerbau periode Januari–Maret 2026 diperkirakan mencapai 185,4 ribu ton, sedangkan kebutuhan konsumsi nasional berada di angka 179 ribu ton, sehingga masih terdapat surplus sekitar 6,3 ribu ton.
Harga Mulai Turun di Sejumlah Daerah
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan tren positif pada harga daging sapi. Hingga minggu ketiga Januari 2026, jumlah daerah yang mengalami penurunan harga di tingkat konsumen meningkat menjadi 14 daerah, dari sebelumnya 13 daerah di awal bulan.
Baca Juga: 5 Wisata Alam Terindah di Klaten yang Wajib Dikunjungi, Panorama Gunung Merapi Jadi Daya Tarik
Pedagang Dukung Kebijakan Pemerintah
Ketua Asosiasi Pedagang Daging Indonesia (APDI), Wahyu Purnama, menyambut baik kesepakatan harga sapi hidup Rp55.000 per kg. Ia meminta agar pelanggaran segera dilaporkan.
Senada, Ketua Umum Jaringan Pemotong dan Pedagang Daging Indonesia (JAPPDI), Asnawi, menegaskan dukungan penuh terhadap kebijakan tersebut dan siap menindaklanjuti laporan jika ditemukan pelanggaran di lapangan.
Meski Biaya Impor Naik, Komitmen Harga Tetap Dijaga
Dalam Rapat Koordinasi Stabilisasi Harga Daging Sapi yang digelar Bapanas, terungkap bahwa pelemahan rupiah terhadap dolar AS berdampak pada biaya impor sapi hidup dari Australia. Biaya tersebut diproyeksikan meningkat sekitar 8 persen pada Februari 2026 dibandingkan Desember 2025.
Meski demikian, para feedlotter tetap berkomitmen menjalankan HAP sesuai ketetapan pemerintah demi menjaga stabilitas harga daging nasional.***