Dalam konteks itulah Noe menempatkan dirinya: membantu negara agar pemerintah tetap berjalan lurus demi kepentingan bangsa.
Perang Kognitif Jadi Ancaman Serius
Selain soal politik, Noe juga menyoroti kritik terkait kompetensinya di bidang pertahanan. Ia menegaskan bahwa pertahanan negara tidak hanya soal senjata dan konflik fisik.
Menurut Noe, ancaman modern justru banyak datang dari wilayah non-militer, seperti disinformasi, runtuhnya kepercayaan publik, dan perpecahan sosial. Kondisi ini ia sebut sebagai bentuk “perang kognitif”.
Perang kognitif, kata Noe, berkaitan langsung dengan cara berpikir masyarakat sehari-hari.
Jika dibiarkan, hal tersebut dapat merusak fondasi negara secara perlahan.
Perlu Parameter untuk Pulihkan Kepercayaan
Noe menilai, masyarakat saat ini menghadapi krisis kepercayaan satu sama lain.
Tidak adanya parameter yang jelas untuk membangun kembali rasa saling percaya menjadi persoalan serius.
Karena itu, ia menyebut keterlibatannya di DPN sebagai bagian dari eksperimen untuk mencari pendekatan baru dalam menghadapi ancaman perang kognitif dan memperkuat ketahanan sosial bangsa.***