Purbaya menilai keputusan memperlebar defisit justru berhasil membalikkan arah ekonomi ke jalur yang lebih positif.
Ia optimistis, ke depan fondasi pertumbuhan akan semakin kuat berkat apa yang ia sebut sebagai kebijakan fiskal yang terukur namun berani.
“Kalau kebijakan ini tidak diambil, mungkin sekarang kita sudah masuk fase krisis.
Tapi faktanya arah ekonomi sudah berbalik.
Jadi defisit fiskal itu konsekuensi logis dari upaya menyelamatkan perekonomian,” tegasnya.
Baca Juga: Anggaran Tak Terserap, Purbaya Sebut Rp10 Triliun Dana K/L Dikembalikan ke Negara
Gelombang Demonstrasi Jadi Alarm Sosial
Menkeu juga mengaitkan kebijakan tersebut dengan gejolak sosial yang terjadi pada Agustus hingga September 2025.
Aksi demonstrasi besar, menurutnya, bukan sekadar ekspresi politik, melainkan tanda kuat tertekannya daya beli dan semakin sempitnya peluang kerja.
Ia menilai situasi tersebut sebagai peringatan keras bahwa negara harus hadir lebih aktif untuk mencegah tekanan ekonomi berubah menjadi krisis sosial.
“Demo itu sinyal. Orang susah cari kerja, kebutuhan makan terganggu, kondisi hidup makin berat. Maka negara wajib menciptakan kebijakan yang bisa membalikkan keadaan,” jelasnya.
Target Akhir: Orang Sibuk Kerja, Bukan Turun ke Jalan
Ke depan, pemerintah bersama bank sentral berkomitmen mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih cepat dan inklusif.
Fokus utamanya adalah membuka lapangan kerja secara luas agar stabilitas sosial tetap terjaga.
“Kewajiban kita memastikan ekonomi tumbuh lebih cepat, supaya pekerjaan tersedia lebih banyak.