Senjata Ada, Tapi Bukan yang Mematikan
Polisi juga menemukan bahwa beberapa anak memiliki senjata yang dibeli secara online. Namun setelah ditelusuri, sebagian besar hanya berupa senjata mainan dan pisau.
Fakta ini menegaskan bahwa yang lebih berbahaya bukanlah senjatanya, melainkan pola pikir agresif yang tumbuh tanpa pendampingan dan literasi digital yang memadai.
Baca Juga: Tahun Ketika Gedung Parlemen Tak Pernah Sepi: Kilas Balik DPR 2025 di Tengah Amarah Publik
Jejak TCC dalam Kasus Ledakan Sekolah
Nama True Crime Community sebelumnya juga mencuat dalam kasus ledakan di SMAN 72 Jakarta pada November 2025.
Pelaku diketahui mengakses grup tersebut sebelum melakukan aksinya.
Aparat menilai kejadian ini berkaitan dengan fenomena memetic violence, yakni kekerasan yang lahir dari peniruan perilaku ekstrem yang dilihat di dunia maya, bukan dorongan ideologis murni.
Faktor Psikologis dan Sosial Lebih Dominan
Polri menegaskan bahwa banyak kasus kekerasan yang dilakukan anak dipicu oleh tekanan psikologis, seperti perundungan, rasa terasing, dan ketidakmampuan menyalurkan emosi secara sehat.
Dalam beberapa kasus, pelaku bahkan meniru aksi penembakan massal di luar negeri sebagai bentuk balas dendam, bukan karena meyakini ideologi tertentu.
PR Bersama: Melindungi Anak di Era Digital
Kasus ini menjadi pengingat keras bahwa pengawasan digital, literasi media, dan kehadiran orang dewasa sangat krusial.
Dunia maya bukan sekadar ruang hiburan, tetapi medan pembentukan karakter yang bisa berbahaya jika dibiarkan tanpa arah.***