Kepergian sang budayawan ini menyisakan kekosongan besar dalam diskursus sosial budaya yang sering ia warnai dengan perspektif yang menyejukkan sekaligus mencerahkan.
Pandangan-pandangannya tentang pentingnya merawat keberagaman dan etika dalam berbangsa akan tetap menjadi warisan abadi yang bisa terus kita pelajari melalui karya-karyanya.
Romo Mudji telah menyelesaikan tugas kemanusiaannya dengan sangat baik, meninggalkan jejak kaki yang dalam di tanah pendidikan dan spiritualitas Indonesia.
Baca Juga: Pesta Pora di Bung Tomo: Ketika Mentalitas Bajol Ijo Kembali Mengaum Tajam
Informasi Jadwal Misa dan Prosesi Pemakaman di Girisonta
Rangkaian misa requiem sebagai penghormatan terakhir bagi sang romo akan diselenggarakan di Kapel Kolese Kanisius, Jakarta, selama dua hari ke depan.
Setelah prosesi di ibu kota selesai, jenazah beliau akan diberangkatkan menuju peristirahatannya yang terakhir di pemakaman para Jesuit di Girisonta, Semarang.
Taman Maria Ratu Damai akan menjadi saksi kepulangan sang pemikir ke pangkuan Sang Pencipta pada hari terakhir tahun dua ribu dua puluh lima ini.
Mengabadikan Nilai Kebijaksanaan Sang Guru
Selamat jalan, Romo Mudji Sutrisno, terima kasih atas setiap tutur kata dan tulisan yang telah membuka mata hati kami semua tentang arti menjadi manusia sejati.
Meski sosok fisiknya telah tiada, api semangat dan pemikiran yang telah beliau nyalakan dalam sanubari para muridnya tidak akan pernah padam oleh waktu.***