TITIKTEMU.,CO - Pergantian tahun yang kini dirayakan pada 1 Januari atau malam sebelumnya, ternyata bukan tradisi yang muncul begitu saja.
Dalam sejarah panjang peradaban manusia, awal tahun pernah dimulai pada bulan Maret. Perubahan musim, politik, hingga astronomi memunculkan kalender Masehi seperti yang digunakan dunia saat ini.
Sejarah mencatat, perayaan tahun baru sudah dikenal sejak sekitar 4.000 tahun lalu. Bangsa Babilonia di Mesopotamia menjadi salah satu pelopor dengan merayakan tahun baru sekitar 2.000 SM.
Baca Juga: Kumpulan Kata-Kata Goodbye 2025 dan Welcome 2026, Ucapan Tahun Baru Penuh Makna
Waktu perayaannya bertepatan dengan ekuinoks musim semi pada pertengahan Maret, momen ketika siang dan malam memiliki durasi yang sama.
Pemilihan bulan Maret tidak lepas dari siklus alam. Musim semi menandai berakhirnya musim dingin dan dimulainya masa tanam. Bagi masyarakat agraris, inilah simbol kehidupan baru.
Perayaan tersebut dikenal dengan festival Akitu yang berlangsung hingga dua pekan, sarat ritual keagamaan dan peneguhan legitimasi kekuasaan raja.
Baca Juga: Kumpulan Resolusi Tahun Baru 2026 dari Gaya Serius hingga Reflektif
Mengapa Bulan Maret Jadi Awal Tahun?
Tradisi memulai tahun baru pada bulan Maret juga ditemukan dalam kalender Romawi kuno. Pada awalnya, kalender Romawi hanya memiliki 10 bulan dengan total 304 hari.
Bulan Maret ditempatkan sebagai bulan pertama, dinamai dari Mars, dewa perang Romawi yang melambangkan kekuatan dan awal permulaan.
Empat bulan pertama dinamai berdasarkan dewa-dewa, sementara enam bulan terakhir diberi nama berdasarkan angka, seperti September (tujuh), Oktober (delapan), hingga Desember (sepuluh).
Menariknya, setelah Desember, kalender seolah berhenti”. Musim dingin tidak dihitung karena dianggap tidak produktif bagi pertanian.