nasional

Kisah Haru Penyintas Banjir Aceh Tamiang: Menolak Bantuan Berlebih Demi Korban Lain

Rabu, 24 Desember 2025 | 23:40 WIB
Warga Aceh Tamiang saat mendatangi posko bantuan untuk mengambil logistik. (Instagram/bayugawtama)

TITIKTEMU.CO - Bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Sumatera berdampak besar bagi warga di tiga provinsi, yakni Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Tak sedikit masyarakat yang kehilangan harta benda, bahkan anggota keluarga, dalam musibah yang terjadi pada akhir November 2025 tersebut.

Di tengah upaya pemulihan, bantuan dari relawan dan pemerintah menjadi penopang penting bagi para penyintas untuk kembali menata kehidupan setelah bencana. Namun, sebuah kisah menyentuh dari Aceh Tamiang justru mencuri perhatian publik karena sikap empati korban banjir terhadap sesama penyintas.

Penyintas Pilih Ambil Bantuan Secukupnya

Momen haru tersebut dibagikan oleh aktivis sekaligus influencer Bayu Gawtama melalui akun Instagram @bayugawtama pada Selasa, 23 Desember 2025. Dalam video itu, seorang warga korban banjir terlihat menolak menerima bantuan secara berlebihan.

Baca Juga: Warga Rusip Antara Bangun Jembatan Darurat Secara Swadaya di Tengah Terputusnya Akses Aceh Tengah

Ia menegaskan hanya ingin mengambil logistik yang benar-benar dibutuhkan oleh dirinya dan keluarga, mengingat masih banyak korban lain yang juga memerlukan bantuan.

“Sudah pak, secukupnya saja. Yang penting yang dibutuhkan. Korban banjir kan bukan kami saja,” ucap warga tersebut dalam video.

Diketahui, warga itu datang bersama sang istri untuk mengambil susu dan popok bayi. Meski kebutuhannya sebenarnya masih banyak, ia tetap membatasi diri demi memberi kesempatan bagi korban lain.

Rasa Sungkan Ambil Banyak Logistik

Dalam unggahan lain, Bayu juga memperlihatkan momen sejumlah ibu-ibu penyintas yang tampak sungkan saat mengambil bantuan di posko pengungsian.

Baca Juga: Jalur Tenge Besi Bireuen–Takengon Kembali Dibuka, Distribusi Bantuan Mulai Lancar

“Sebetulnya nggak cukup, tapi malu ngambilnya,” ujar seorang ibu ketika menerima bantuan popok bayi.

Ibu lainnya bahkan meminta izin dengan ragu untuk mengambil satu botol air minum karena persediaan air yang dimilikinya telah habis.

Menanggapi hal tersebut, para relawan menegaskan bahwa bantuan adalah hak para penyintas dan mereka dipersilakan mengambil sesuai kebutuhan.

Halaman:

Tags

Terkini