Baca Juga: Daftar Nomor Darurat Bencana di Aceh, Sumut, dan Sumbar
Sewa Ekskavator Demi Mama
Ketika upaya pencarian manual tak lagi mungkin dilakukan, Erik mengambil keputusan nekat. Dia menyewa alat berat yang sedang bekerja di lokasi lain.
“Saya nego sama pemiliknya. Untung dia mau bantu. Kalau nggak, mungkin mama belum ketemu,” kata Erik.
Sabtu sore itu, di tengah redupnya hari dan aroma lumpur yang pekat, ekskavator mulai mengangkat puing rumah keluarga.
Erik berdiri di samping operator, memberi arahan kecil tentang titik-titik yang dia perkirakan tempat mamanya. Pencarian berlangsung hingga malam, lalu dihentikan demi keamanan.
Keesokan paginya, bersama tim Basarnas, pencarian dilanjutkan. Tiga jam kemudian, mesin ekskavator berhenti. Operator melihat sesuatu.
Baca Juga: Medan Darurat: 19 Kecamatan Terendam, Ribuan Warga Mengungsi dan Wali Kota Pastikan BBM Aman
Sujud yang Tak Pernah Selesai
Di bawah puing rumah yang sudah tidak bisa dikenali bentuknya, jenazah Ernita ditemukan, terjepit di antara runtuhan. Namun, tubuhnya utuh.
Mukena putih yang dia kenakan masih melekat, menandakan dia tengah menunaikan salat saat galodo menerjang dan menyapu rumah itu.
“Mama masih lengkap, nggak ada luka. Tangannya juga bisa saya lipat rapi. Dia kelihatan seperti baru selesai salat,” ujar Erik.
Evakuasi dilakukan hati-hati. Jenazah Ernita tidak dibawa ke posko identifikasi seperti jenazah lain, karena pencarian dilakukan langsung oleh keluarga dan Basarnas.
Usai ditemukan, jenazah dibawa ke musala yang berjarak sekitar satu kilometer dari lokasi, dan dimakamkan di pemakaman keluarga pada hari yang sama. Kepergian yang sederhana, sunyi, tapi penuh hormat.***