“Bayangkan, ada 5 ton lele ditebar, hadiah sepeda motor, elektronik—itu bukan murah,” katanya.
Ia menilai agenda semacam ini lebih cocok untuk tingkat RT atau Camat, bukan Wapres.
“Wakil presiden itu dipilih lewat proses mahal, biayanya sampai puluhan triliun. Masa cuma buat datang mancing?” sindirnya.
Menurut Roy, di waktu yang sama, Gibran justru melewatkan acara penting di Solo dan Yogyakarta yang menghadirkan tokoh-tokoh nasional seperti Mahfud MD dan Sri Sultan Hamengkubuwono X.
Baca Juga: Rheza Herwindo: Anak Setya Novanto yang Kini Jadi Pengusaha Properti dan Komisaris PT KWE
Masalah Agenda, Masalah Pilihan
Roy juga menyoroti prosedur pemilihan acara Wapres yang biasanya diatur dengan cermat oleh Sekretariat Wakil Presiden (Setwapres).
“Biasanya setiap awal bulan sudah ada jadwal lengkap. Kalau ada acara di luar kota atau luar negeri, tinggal dipilih. Jadi bukan tiba-tiba,” ujarnya.
Namun, ia menegaskan, keputusan akhir tetap ada di tangan Gibran.
“Setwapres itu cuma nyiapin, tapi yang mutusin datang atau nggak ya Wapres sendiri,” tegas Roy.
Di sinilah, kata Roy, publik berhak mempertanyakan prioritas seorang pejabat tinggi.
Apakah menghadiri acara rakyat sederhana jadi bentuk kedekatan, atau justru kehilangan makna simbolis dari posisi yang diemban?
Baca Juga: Rheza Herwindo: Anak Setya Novanto yang Kini Jadi Pengusaha Properti dan Komisaris PT KWE
Antara Kedekatan dan Kontroversi
Meski banyak yang mengkritik, sebagian masyarakat justru mengapresiasi langkah Gibran yang turun langsung ke kegiatan rakyat.