“Dampaknya mulai terasa,” ujarnya dalam forum ekonomi nasional. “Oktober, November, dan Desember akan lebih terasa lagi.”
Baca Juga: Sukabumi: Kota yang Tidak Tergesa, Slow Living dengan Bernapas Lega
Kritik Ekonomi: “Ini Hanya Sorotan Gaya, Bukan Kebijakan Nyata”
Tak semua sepakat dengan narasi sukses itu. Prof. Ferry Latuhihin, analis pasar modal sekaligus pengamat ekonomi, memberikan kritik tajam terhadap arah kebijakan pemerintah.
Menurutnya, masyarakat seringkali teralihkan oleh panggung komunikasi pejabat, tetapi lupa menilai kualitas kebijakan yang dijalankan.
“Negara ini terlalu dominan mengendalikan ekonomi,” ujar Ferry.
Ia menilai target pertumbuhan 8 persen tidak realistis jika sektor swasta tidak diberi ruang berkembang.
Lebih lanjut, Ferry juga menyinggung strategi pemerintah yang mengandalkan bansos dan pajak tinggi sebagai solusi ekonomi.
Menurutnya, cara ini bukan strategi struktural untuk membangun ekonomi yang sehat dalam jangka panjang.
Fenomena Post-Truth di Politik Ekonomi
Ferry menyindir fenomena “Purbaya Everywhere” di media sosial sebagai bagian dari budaya politik baru yang cenderung mementingkan gaya ketimbang kinerja.
Ia menyebut masyarakat Indonesia rentan terjebak pada narasi populer ketimbang fakta.
“Orang mudah sekali dibuat terpesona oleh pencitraan. Ini era post-truth. Yang penting viral dulu, urusan substansi belakangan,” tegasnya.
Kebijakan atau Administrasi?
Salah satu kritik terkeras Ferry adalah soal penempatan dana besar di bank milik negara.