Dalam sambutannya, Dr. Hanif Faisol Nurofiq menegaskan bahwa tiga isu besar lingkungan tersebut tidak bisa dilihat secara terpisah.
“Krisis plastik, perubahan iklim, dan hilangnya keanekaragaman hayati merupakan satu kesatuan tantangan yang membutuhkan solusi terintegrasi,” ujarnya.
Ia menambahkan, sinergi lintas sektor sangat penting untuk mendorong ekonomi sirkular sebagai solusi berkeadilan dan berkelanjutan.
“Kita harus bergerak bersama agar bumi tetap layak huni bagi generasi mendatang,” tegasnya.
Pemerintah, lanjut Hanif, berkomitmen mendorong penerapan ekonomi sirkular melalui Kebijakan dan Strategi Nasional (Jakstranas), termasuk skema Extended Producer Responsibility (EPR) yang memperluas tanggung jawab produsen terhadap pengelolaan sampah.
WWF-Indonesia Tegaskan Komitmen Lingkungan
Sementara itu, Aditya Bayunanda, CEO WWF-Indonesia, menyampaikan bahwa organisasinya terus berupaya mengatasi dampak plastik terhadap iklim dan keanekaragaman hayati melalui program Plastic Smart Cities.
“WWF-Indonesia mendukung penuh target pemerintah dalam mengelola sampah plastik dan mengapresiasi berbagai kebijakan inovatif yang sudah berjalan,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa WWF telah menjalankan kampanye No Plastic in Nature sejak 2019 untuk mendorong pengurangan kebocoran plastik ke alam dan memperkuat penerapan ekonomi sirkular di berbagai kota di Indonesia.
Ekonomi Sirkular Jadi Kunci Solusi
Melalui forum ini, WWF-Indonesia dan KLH menekankan bahwa ekonomi sirkular merupakan pendekatan paling efektif untuk memutus rantai persoalan plastik, iklim, dan keanekaragaman hayati secara bersamaan.
Konsep ini menekankan pentingnya daur ulang, penggunaan kembali material, serta desain ramah lingkungan untuk mengurangi emisi gas rumah kaca, kebocoran polutan, dan kerusakan ekosistem.
Wadah Kolaborasi untuk Aksi Nyata