“Aksi ini adalah bentuk solidaritas untuk saudara-saudara kami di Ponpes Al Khoziny. Kami ingin menegaskan bahwa pesantren tidak bisa disamakan dengan lembaga lain yang lalai,” kata Riki kepada awak media.
Ia juga menilai publik seringkali menyoroti pesantren secara berlebihan, sementara banyak kasus besar lain diabaikan.
“Kalau bicara soal pelanggaran, bagaimana dengan tragedi besar seperti Kanjuruhan atau pelanggaran HAM yang tak kunjung selesai? Tapi justru pesantren yang dijadikan sasaran,” ujarnya.
Baca Juga: Cak Imin Bela Renovasi Ponpes Al Khoziny Pakai APBN: “Kalau 1.900 Santri Belajar di Mana?”
Isi Pernyataan Atalia Praratya yang Jadi Polemik
Sebelumnya, Atalia Praratya—yang juga istri dari mantan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil—menyampaikan pandangannya soal pentingnya akuntabilitas penggunaan APBN dalam rencana renovasi Ponpes Al Khoziny.
Dalam pernyataannya pada Jumat, 10 Oktober 2025, Atalia menyebut bahwa penggunaan dana negara harus dikaji secara cermat dan transparan agar tidak menimbulkan kecemburuan sosial.
“Usulan penggunaan APBN harus dikaji ulang dengan serius, memastikan proses hukum berjalan, dan kebijakan ke depan lebih adil serta transparan,” ujar Atalia dalam keterangan resminya.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa dirinya memahami tanggung jawab negara dalam mendukung pendidikan agama.
“Saya sepenuhnya memahami keresahan masyarakat. Namun setiap kebijakan publik harus diatur agar tidak menimbulkan persepsi ketidakadilan di tengah masyarakat,” tambahnya.
Aksi protes di depan rumah Atalia Praratya menunjukkan tingginya sensitivitas publik terhadap isu penggunaan APBN bagi lembaga keagamaan. Forum Santri Nusantara Bandung Raya menilai komentar Atalia menimbulkan kesalahpahaman terhadap dunia pesantren.
Sementara itu, Atalia tetap mempertahankan pendiriannya bahwa setiap penggunaan dana publik harus akuntabel dan adil, tanpa meniadakan tanggung jawab negara terhadap pendidikan keagamaan.***