Barang-barang yang hilang itu, kata Uya, bukan sekadar milik pribadinya, melainkan hasil kerja keras anak-anaknya.
“Yang kalian ambil itu hak anak saya dari jerih payah mereka,” tegasnya.
Luka yang Sulit Sembuh
Lebih dari sebulan berlalu sejak penjarahan itu terjadi, rumah Uya Kuya tetap menjadi saksi bisu kemarahan massa yang tak terkendali.
Bukan hanya kerugian materi, pengalaman ini meninggalkan luka psikologis yang mendalam.
Uya dan Astrid berharap peristiwa ini menjadi pengingat bahwa demonstrasi semestinya tidak berubah menjadi ajang perusakan dan penjarahan yang merugikan masyarakat.***