Prof. Tjandra menjelaskan lima faktor risiko keracunan makanan versi WHO yang patut diperiksa di laboratorium Indonesia:
Bakteri: Salmonella, E. coli, Campylobacter, Listeria, hingga Vibrio cholerae.
- Virus: Norovirus dan Hepatitis A.
- Parasit: Cacing trematoda, cacing pita, hingga Giardia dan Entamoeba histolytica.
- Prion: Protein infektif langka seperti BSE.
- Kontaminan kimia: Logam berat (timbal, kadmium, merkuri), POPs (dioksin, PCBs), dan berbagai toksin seperti aflatoksin dan ochratoxin.
Kelima faktor ini tidak serta merta menjadi penyebab kasus MBG, tetapi penting sebagai langkah kewaspadaan.
Data Labkes Jabar: Skala Kasus dan Sampel
Laboratorium Kesehatan Jawa Barat menerima 163 sampel makanan dari belasan dinas kesehatan kabupaten/kota sejak Januari 2025.
Hasil pemeriksaan menunjukkan:
Mikrobiologi: 72% hasil negatif, 23% positif (Vibrio cholerae, Staphylococcus aureus, E. coli, Bacillus cereus).
Kimia: 92% negatif, 8% positif nitrit.
Mayoritas kontaminasi ditemukan pada bakteri Salmonella dan Bacillus cereus, sedangkan parameter kimia didominasi nitrit.
Faktor Kebersihan Jadi Sorotan
Kepala Labkes Jabar Ryan Bayusantika Ristandi menegaskan kebersihan air, peralatan dapur, dan higienitas pekerja sangat berpengaruh terhadap keamanan pangan.
Ketiga faktor ini sudah diatur dalam regulasi resmi dan perlu diawasi ketat untuk mencegah kasus serupa.
Pentingnya Deteksi dan Pencegahan
Kasus ini membuka mata banyak pihak bahwa program berskala besar seperti MBG perlu pengawasan kualitas pangan yang lebih ketat.
Meski hasil lab belum menyimpulkan penyebab tunggal, temuan Salmonella dan Bacillus cereus menjadi alarm serius bagi penyedia makanan publik.***