Misalnya, program Penerima Bantuan IuranJaminan Kesehatan Nasional (PBI JKN) yang menjangkau 96,7 juta peserta, Program Keluarga Harapan (PKH) bagi 10 juta keluarga penerima manfaat (KPM), dan program kartu sembako untuk 18,3 juta KPM.
Tak hanya itu, Program Indonesia Pintar (PIP) menyasar 11,3 juta siswa, sementara Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah membantu 895,9 ribu mahasiswa.
Semua program ini diverifikasi melalui Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN) untuk memastikan bantuan tepat sasaran.
Tantangan Penyerapan Anggaran dan Solusi Pemerintah
Meski realisasi belanja menunjukkan angka positif, masih ada tantangan. Luky mengakui terdapat perbedaan antara kecepatan pembangunan fisik di lapangan dan penyerapan anggarannya.
Untuk mengatasi hal ini, Kementerian Keuangan membentuk tim monitoring dan mengadakan “safari” ke tiap kementerian/lembaga.
Langkah ini bertujuan untuk memetakan masalah yang menghambat serapan anggaran dan memberikan pendampingan langsung.
Dengan pendekatan ini, pemerintah juga mengeksplorasi skema baru untuk penerima program prioritas lintas tahun agar belanja negara lebih efektif.
Strategi Mendorong Belanja Negara Lebih Cepat dan Tepat
Kementerian Keuangan tak hanya membuka blokir anggaran, tetapi juga mendampingi K/L agar dana benar-benar terserap maksimal.
"Kami mencoba memahami masalah yang dihadapi tiap K/L, mendampingi prosesnya, hingga mengeksplor skema baru agar belanja negara lebih efektif,” kata Luky.
Langkah ini menunjukkan bahwa pemerintah tidak hanya fokus pada percepatan belanja, tetapi juga pada kualitas dan ketepatan sasaran program yang dibiayai oleh APBN.
Dengan strategi tersebut, diharapkan APBN 2025 dapat menjadi instrumen penting untuk memperkuat perekonomian nasional dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.***