Yanwar menjelaskan fenomena publik yang membandingkan gaya Purbaya dengan Sri Mulyani.
Menurutnya, rezim ibu-ibu identik dengan kehati-hatian dalam mengelola anggaran.
“Kalau ibu jadi menteri keuangan, kecenderungannya pelit. Seperti kalau ada yang minta anggaran, ‘yang kemarin saja masih berantakan, tahan dulu,’” jelasnya.
Sebaliknya, gaya bapak-bapak cenderung ‘berani keluar dulu, tegas belakangan’. “Kalau bapak-bapak, diminta berapa, dikasih. Tapi kalau kemudian bermasalah, siap digantung (dihukum),” terang Yanwar.
“Artinya, ibu-ibu hati-hati di depan, bapak-bapak cenderung longgar di awal, keras di belakang,” tambahnya.
Baca Juga: Terima Rp55 Triliun dari Pemerintah, BRI Fokus Salurkan Kredit UMKM dan Program Prioritas Pemerintah
Alasan di Balik Langkah Cepat Purbaya
Bagi Yanwar, perbedaan gaya ini mencerminkan karakter berbeda antara Purbaya dan Sri Mulyani.
"Ini penyederhanaan yang tepat untuk menggambarkan gaya Purbaya yang lebih cepat dan berani dibanding pendahulunya,” ujarnya.
Lebih lanjut, Yanwar menyebut Purbaya menganut mazhab teori likuiditas Milton Friedman.
Teori ini berpendapat bahwa uang negara seharusnya tidak dibiarkan mengendap. “Dana harus mengalir, harus jalan. Itu yang membedakan karakternya,” tukasnya.
Menkeu Baru, Warna Baru
Langkah Purbaya Yudhi Sadewa menggelontorkan dana Rp200 triliun ke Himbara memperlihatkan gaya kepemimpinan finansial yang kontras dibanding Sri Mulyani.
Dari istilah ‘rezim ibu vs bapak’ hingga teori likuiditas Friedman, publik kini menunggu apakah gebrakan ini akan benar-benar membawa dampak positif bagi perekonomian nasional.***