nasional

Mahfud MD Beberkan Alasan Sri Mulyani Mundur dari Kabinet Prabowo dan Kisah Pilu Usai Rumah Dijarah

Rabu, 10 September 2025 | 21:59 WIB
Eks Menko Polhukam RI, Mahfud MD menuturkan cerita pilu mantan Menkeu, Sri Mulyani usai insiden penjarahan. (YouTube.com/LeonHartono)

TITIKTEMU.CO – Sri Mulyani Indrawati resmi meninggalkan jabatan Menteri Keuangan RI di Kabinet Merah Putih setelah Presiden Prabowo Subianto melakukan reshuffle. Pencopotan ini terjadi di tengah gelombang demonstrasi besar akhir Agustus 2025 yang menuntut reformasi ekonomi serta tata kelola negara.

Publik sempat bertanya-tanya mengenai alasan di balik keputusan tersebut. Eks Menko Polhukam, Mahfud MD, akhirnya memberikan pandangan lewat video di kanal YouTube Leon Hartono, Rabu (10/9/2025).

Menurut Mahfud, Sri Mulyani sebenarnya sudah dua kali mengajukan pengunduran diri kepada Presiden Prabowo, namun baru dikabulkan lewat reshuffle. “Beliau memang sampai dua kali minta mengundurkan diri, tapi belum diterima. Akhirnya baru diganti,” jelas Mahfud.

Baca Juga: Mahfud MD Ungkap Gaya Kepemimpinan Nadiem Makarim Saat Jadi Mendikbud: Bersih tapi Kurang Paham Birokrasi

Mahfud menegaskan Sri Mulyani bukan pejabat biasa. Ia memenuhi tiga syarat penting, yakni profesionalisme, rekam jejak internasional yang mumpuni, serta integritas tinggi.

Namun, Mahfud juga menyingkap kisah pilu yang dialami Sri Mulyani setelah rumahnya dijarah. Kejadian itu meninggalkan luka mendalam, terutama karena aparat dinilai kurang memberikan pengamanan. “Beliau bilang, ‘saya ikhlas kalau orang menjarah karena butuh, tapi kecewa karena penjagaan aparat kurang’,” ungkap Mahfud.

Lebih lanjut, Sri Mulyani juga merasa tersakiti ketika disamakan dengan politikus Ahmad Sahroni, yang juga rumahnya dijarah. “Beliau kecewa berat. Selama ini dikenal bersih dan berintegritas, tapi malah disamakan dengan sosok lain yang citranya berbeda,” tambah Mahfud.

Baca Juga: Indonesia dan Amerika Serikat Masih Negosiasikan Tarif Resiprokal, Ini Empat Syarat dari Washington

Mahfud menduga aparat tidak memperketat penjagaan karena menganggap Sri Mulyani bukan target utama. “Mungkin karena dianggap bersih, jadi tak diprediksi akan jadi sasaran. Ternyata salah,” katanya.

Di sisi lain, Mahfud menilai reshuffle belum berhenti. Ia memperkirakan perombakan kabinet akan kembali dilakukan pada Oktober 2025, bertepatan dengan satu tahun masa jabatan Presiden Prabowo.

“Sekarang baru 10 bulan, saya yakin reshuffle akan berlanjut, setidaknya sekali lagi pada Oktober nanti,” pungkas Mahfud.***

Tags

Terkini