Baca Juga: Ini Daftar Pengalihan Rute, dan Penutupan Sementara Transjakarta Akibat Demo
Affan Tulang Punggung Keluarga
Sejak lulus sekolah, Affan memilih bekerja untuk membantu keluarganya. Dia sempat menjaga portal jalan di lingkungan sekitar selama empat tahun sebelum akhirnya menjadi driver ojol seperti ayahnya.
Sebagian besar penghasilan Affan digunakan untuk biaya hidup keluarga. Meski masih muda, dia sudah menjadi tumpuan ekonomi orang tua dan adik-adiknya.
Ibunya bahkan bercerita, Affan punya rencana mulia: membeli tanah di kampung halaman untuk membangun rumah keluarga.
Luka yang Sulit Disembuhkan
Kematian Affan menambah panjang daftar korban kekerasan aparat, seperti tragedi Kanjuruhan atau kasus Afif Maulana. Setiap kali ada korban, perhatian publik memang menguat.
Namun setelah sorotan meredup, kasus sering berakhir dengan vonis ringan bagi pelaku. Di sisi lain, keluarga korban menanggung luka yang tak pernah hilang seumur hidup.
“Ya Allah, mungkin Affan ini tulang punggung saya,” ucap Zulkifli lirih saat konferensi pers di rumah duka, Manggarai, Jakarta Pusat, Jumat.
Hingga malam, rumah duka tidak sepi. Warga, rekan ojol, aktivis, hingga pejabat berdatangan. Presiden Prabowo Subianto menyempatkan untuk memberi penghormatan terakhir.
Baca Juga: Siapa Feby Belinda, Istri Ahmad Sahroini? Diduga Kabur ke Singapura Naik Jetpri
Harapan untuk Keadilan
Bagi keluarga, tidak ada yang bisa menggantikan kehilangan seorang anak, abang, dan adik tercinta. Affan bukan sekadar nama di daftar panjang korban represi.
Dia adalah anak yang selalu menyapa ibunya dengan ramah, pemuda yang rajin bekerja, serta sosok yang berjuang demi keluarganya. Kini, publikc menuntut agar peristiwa ini tidak berakhir begitu saja.
Aparat yang terlibat harus bertanggung jawab. Reformasi kepolisian yang dijanjikan sejak lama kembali dipertanyakan.