2. Teorema Netralitas Vampir
Justru lebih efisien bila vampir tidak dimusnahkan sepenuhnya, melainkan dibiarkan dalam jumlah kecil.
Ketika populasi vampir mendekati nol, biaya untuk membasmi mereka justru melonjak tak terbatas.
Artinya, membiarkan ancaman tetap ada—asal dalam skala terkendali—lebih masuk akal daripada menghabiskan semua sumber daya untuk menghancurkannya.
Baca Juga: Surabaya Memanas: Pos Polisi Dibakar Massa, Malam Kota Penuh Kepanikan
Metafora untuk Masalah Sosial Nyata
Snower menghubungkan “vampir ekonomi” dengan masalah yang nyata kita hadapi: inflasi, pengangguran, hingga kemiskinan.
Menurutnya, memberantas habis masalah sosial sama sekali adalah misi mustahil. Butuh biaya yang terlampau besar, bahkan bisa mengorbankan aspek lain dari kesejahteraan masyarakat.
Lebih realistis jika masalah itu tetap ada dalam kadar tertentu, tapi terkendali. Dengan begitu, pemerintah bisa memusatkan sumber daya untuk hal-hal yang benar-benar mendukung kesejahteraan publik.
Baca Juga: Tragedi Api di Gedung DPRD Makassar: Telan Korban Jiwa
Pelajaran Penting: Ekonomi Bukan Sekadar Angka
Melalui metafora vampir, Snower ingin mengingatkan bahwa ekonomi bukan hanya hitungan angka, rumus, dan grafik.
Ia adalah soal prioritas, pilihan sulit, serta bagaimana manusia mengalokasikan energi yang terbatas.
Fenomena “vampir ekonomi” ini pun masih relevan hingga hari ini.
Dari utang negara, krisis pangan, hingga masalah ketimpangan, kita belajar bahwa sering kali, melawan habis masalah bukanlah solusi terbaik. Justru menjaga keseimbangannya bisa lebih bijak.***