TITIKTEMU.CO - Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Indonesia tahun ini merayakan HUT ke-80.
Seharusnya, usia yang sudah matang ini menjadi ajang perayaan capaian sekaligus refleksi perjalanan panjang parlemen dalam membangun demokrasi di Tanah Air.
Namun, alih-alih penuh apresiasi, citra DPR masih dipandang buruk oleh publik.
Kritik tajam terus mengemuka, mulai dari efektivitas legislasi hingga pengelolaan anggaran yang tidak transparan.
Mengapa Kinerja DPR Masih Dicap Buruk?
1. Legislasi yang Tak Kunjung Rampung
Banyak Rancangan Undang-Undang (RUU) prioritas dalam Prolegnas justru tertunda. Bahkan enam RUU warisan periode sebelumnya masih terbengkalai.
Publik menilai DPR kurang serius, padahal usia 80 tahun seharusnya jadi momentum menunjukkan kedewasaan politik.
2. Lemahnya Koordinasi dengan Pemerintah
Hubungan DPR dengan pemerintah seringkali tidak solid. Koordinasi yang lemah memperlambat pembahasan RUU.
Akhirnya, DPR terlihat lemah di mata rakyat, meski perannya seharusnya kuat di usia ke-80 ini.
3. Politik Internal yang Penuh Tarik-Ulur
Fragmentasi kepentingan partai di parlemen membuat DPR sulit kompak.
Situasi ini menimbulkan citra bahwa DPR tidak mampu tampil sebagai lembaga negara yang solid, meski sudah delapan dekade hadir.