nasional

Menyelami Dunia Sir Arthur Conan Doyle, dari Sherlock Holmes hingga Jejak Kemanusiaan

Rabu, 13 Agustus 2025 | 11:00 WIB
Sir Arthur Conan Doyle, penulis buku detektif terbaik sepanjang masa berjudul “Sherlock Holmes”. () (X.com/BoylanRoger)

Kalimat ini bukan hanya indah, tapi juga menjadi filosofi hidup bagi banyak penggemar misteri.

Baca Juga: Drakor The Defects, Kisah Adopsi Ilegal dan Balas Dendam

Perjalanan Hidup yang Tak Terduga

Lahir pada 22 Mei 1859 di Edinburgh, Skotlandia, dengan nama lengkap Sir Arthur Ignatius ConanDoyle, ia awalnya menempuh pendidikan yang sama sekali tidak berhubungan dengan dunia kepenulisan.

Doyle bersekolah di Jesuit di Lancashire selama tujuh tahun, lalu melanjutkan satu tahun di Feldkirch, Austria, sebelum kembali ke Edinburgh.

Baca Juga: Kisah Sukses Kumora Cookies: Camilan Tuna dan Kelor dari Proyek Kampus hingga Menjadi UMKM Binaan BRI

Pengabdian di Luar Dunia Sastra

Doyle bukan hanya penulis, tapi juga seorang humanis.

Pada 1902, ia menerima gelar bangsawan “Sir” sebagai pengakuan atas jasanya di bidang kemanusiaan, termasuk membantu di rumah sakit Bloemfontein, Afrika Selatan, saat Perang Boer.

Jejak Tak Terhapuskan

Sir Arthur Conan Doyle meninggal pada 7 Juli 1930 di Crowborough, Sussex, Inggris.

Namun, seperti karakter ciptaannya yang abadi, warisannya tetap hidup.

Dari Sherlock Holmes hingga kontribusinya bagi kemanusiaan, Doyle meninggalkan jejak yang tak akan pernah pudar dalam sejarah sastra dunia.***

Halaman:

Tags

Terkini