TITIKTEMU.CO - Belakangan ini, istilah Rojali (Rombongan Jarang Beli) dan Rohana (Rombongan Hanya Nanya-nanya) menjadi bahan pembicaraan hangat.
Fenomena ini mencerminkan kebiasaan sebagian masyarakat yang datang ke pusat perbelanjaan hanya untuk melihat-lihat tanpa benar-benar membeli.
Menurut pengusaha, tren ini mencerminkan kondisi daya beli masyarakat yang masih belum sepenuhnya pulih.
Terutama setelah serangkaian tantangan ekonomi yang memengaruhi konsumsi rumah tangga secara keseluruhan.
Baca Juga: Fenomena Rojali dan Rohana Menurut Psikolog: Antara Kebutuhan Sosial, Gengsi, dan Tren Media Sosial
Pelaku Usaha Tetap Optimis: Robeli Akan Hadir
Meski sempat menjadi kekhawatiran, pelaku usaha tetap memandang fenomena ini dengan penuh harapan.
Ketua Umum Apindo, Shinta W Kamdani, menyampaikan bahwa hadirnya Rojali dan Rohana lebih baik daripada pusat perbelanjaan yang benar-benar sepi.
Ia menekankan bahwa penurunan permintaan memang nyata, namun masyarakat masih menunjukkan ketertarikan untuk datang ke pusat perbelanjaan, meski hanya untuk "window shopping".
Shinta percaya, jika pemerintah bisa menggenjot daya beli melalui insentif, promo diskon, atau program stimulus lainnya, tren konsumsi ini akan berbalik arah. Bahkan, akan muncul kelompok konsumen baru yang benar-benar melakukan pembelian, yaitu Robeli (Rombongan Benar Beli).
Baca Juga: Salurkan BSU Senilai Rp1,72 Triliun ke 2,8 Juta Pekerja, BRI Dorong Daya Beli Masyarakat
Dorongan Pemerintah Jadi Kunci Pemulihan
Menurut Shinta, mendorong daya beli masyarakat adalah hal yang krusial.
Dengan adanya insentif yang tepat seperti diskon, subsidi, atau kemudahan akses terhadap barang-barang kebutuhan, maka masyarakat akan lebih terdorong untuk kembali belanja.