Dalam undang-undang tersebut, disebutkan pentingnya membentuk kemandirian jemaah, termasuk dalam memahami pelaksanaan ibadah haji.
Hilman juga menekankan bahwa manasik haji nasional menjadi sarana untuk menyamakan pemahaman seluruh calon jemaah, khususnya karena mayoritas dari mereka adalah pemula.
Oleh karena itu, manasik ini penting untuk menyampaikan tata cara haji, rukun dan wajib haji, larangan-larangan selama ihram, serta hikmah dari setiap rangkaian ibadah.
Selain itu, manasik juga menjadi momen untuk membangun kesiapan fisik jemaah.
Dalam waktu dekat, Kemenag berencana menyelenggarakan kegiatan manasik nasional lanjutan termasuk simulasi jalan kaki massal, guna membantu jemaah berlatih secara fisik menghadapi perjalanan haji yang menuntut daya tahan tubuh tinggi.
Struktur Manasik Haji dan Partisipasi Daerah
Hingga saat ini, Kemenag secara rutin memfasilitasi bimbingan manasik kepada lebih dari 200 ribu jemaah haji setiap tahunnya.
Di wilayah Jawa, manasik dilakukan dalam delapan sesi, sementara di luar Jawa bisa mencapai sepuluh sesi.
Namun tahun ini menjadi istimewa karena seluruh proses manasik berlangsung secara serentak di seluruh Indonesia.
Dengan pelaksanaan hybrid, peserta dari berbagai provinsi tetap dapat mengikuti bimbingan tanpa harus berpindah tempat.
Sistem ini juga memungkinkan Kemenag mengawasi dan memastikan materi yang disampaikan tetap seragam dan terstandardisasi.
Pelunasan Biaya dan Kesiapan Kesehatan Jemaah
Dalam kesempatan tersebut, Hilman juga menyampaikan kabar baik mengenai proses pelunasan biaya haji.