TITIKTEMU.CO, Warga Kota Yogyakarta memang tidak meninggalkan budaya dari adat istiadat yang turun temurun masih berjalan hingga saat ini. Walaupun perkembangan teknologi telah maju kian pesatnya.
Selaras itu, Pemerintah Kota Yogyakarta melalui Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kota Yogyakarta menyelenggarakan Upacara Adat Daur Hidup ‘Mitoni.’
Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kota Yogyakarta Yetti Martanti mengatakan, Mitoni atau ‘amitoni’ berasal dari kata ‘am’ yang berarti melaksanakan dan ‘pitu’ yang berarti suatu kegiatan yang dilakukan pada hitungan ketujuh. Jadi Mitoni ini merupakan tradisi yang dilakukan masyarakat Jawa ketika kehamilan menginjak usia tujuh bulan.
Selain memohon keselamatan bagi sang jabangbayi atau anak, juga meminta doa agar sang ibu diberikan kelancaran dalam melewati proses kelahiran.
Baca Juga: Festival Apem Ruwahan Kampung Ratmakan Untuk Menyambut Bulan Ramadhan
Sekretaris Daerah Kota Yogyakarta Aman Yuriadijaya berharap, upacara Mitoni ini terus dijalankan oleh warga Kota Yogyakarta. Selain nguri-nguri kebudayaan Jawa, upacara Mitoni juga sebagai bentuk edukasi terhadap nilai-nilai budaya.
Aman juga mengatakan, keberlangsungan adat istiadat yang ada juga didukung oleh Kelurahan Budaya/Rintisan Kelurahan Budaya (RKB) yang ada di Kota Yogyakarta.
Ada beberapa tahapan dalam upacara mitoni yakni meliputi, sungkeman yang dilakukan oleh calon ibu kepada orangtua, mertua, dan suami. Dilanjutkan dengan upacara siraman atau mandi air. Dimana air yang digunakan berasal dari tujuh sumber mata air. Selanjutnya, calon ibu kemudian mengeringkan badan dan berbalut kain.
Kain yang digunakan akan bergantian sebanyak tujuh busana. Dimana sang ibu menggunakan kain panjang dan kemben sebanyak tujuh buah dengan motif yang berbeda dan memiliki makna yang berbeda.
Baca Juga: Meski Baru Akan 2 Minggu Puasa, Warga Suryatmajan Gelar Ruwahan Untuk Menyambut Ramadan 1445 H
Upacara tersebut dilanjutkan dengan brojolan atau upacara memasukkan telur ayam kampung ke dalam kain calon ibu dan dilanjutkan memutus lawe atau lilitan benang atau janur. Lanjutnya, kedua belah pasang ibu memasukkan kelapa gading muda yang telah digambari Kamajaya dan Dewi Ratih, atau Arjuna dan Sembadra untuk memprediksi jenis kelamin jabang bayi.
Selanjutnya, acara mitoni tersebut diakhiri dengan berjualan rujak dan makan bersama.
Kelurahan Budaya Gedongkiwo juga melaksanakan kegiatan pelestarian adat istiadat salah satunya Merti Kali, Kupatan serta tahun ini akan dilaksanakan upacara adat Tedhak Siten.