TITIKTEMU.CO - Wakil Ketua Dewan Pakar TKN Prabowo-Gibran, Budiman Sudjatmiko menegaskan fgeopolitik dan situasi global sangat krusial dalam menentukan nasib bangsa Indonesia kedepan.
Menurut Budiman, jika Indonesia gagal mengelola transisi kekuasaan akan beresiko terhadap kekacauan sosial.
“Konteks global, geopolitik, geoekonomi, dan geostrategi sangat penting pada Pilpres kali ini. Indonesia berada dalam posisi yang krusial dalam menghadapi resiko-resiko global.
Baca Juga: Jangan Lupa! Ini Syarat dan Dokumen yang Wajib Dibawa Saat Nyoblos di Pemilu 14 Februari 2024
Kita membutuhkan pemimpin-pemimpin yang strategis dan visioner untuk mengelola hal tersebut, ” jelas Budiman Sudjatmiko kepada wartawan di Jakarta, Senin 12 Februari 2024.
Budiman menyampaikan setidaknya ada tiga faktor geopolitik di yang menjadi resiko tingkat global hari ini.
“Tiga faktor itu yang pertama adalah kondisi pasca pandemi, kedua perang antar negara besar, dan faktor yang ketiga revolusi industri ke 4,” ungkap dia.
Baca Juga: Menhan Prabowo di Wisuda Unhan: Pekerja Keras dan Cerdas akan Bertahan di Tengah Tantangan Zaman
Pada faktor Pandemi, Budiman menjelaskan bahwa kondisi dunia yang hari ini masih berusaha pulih dari Pandemi Covid 19 mirip dengan kondisi seabad lalu saat pemulihan dari Pandemi Flu Spanyol.
Sedangkan faktor perang, Budiman menyebut hari ini terjadi perang yang konstan di berbagai belahan dunia, seperti perang Barat via Ukraina melawan Rusia.
“Faktor terakhir adalah revolusi industry di mana abad lalu terjadi revolusi industri kedua lewat penggunaan listrik. Sekarang adalah revolusi industri keempat lewat penggunaan teknologi digital dan biologis,” ujarnya.
Baca Juga: Menhan Prabowo Bangga Unhan RI Cetak Sejarah Luluskan 75 Sarjana Kedokteran Militer
Akibat dari tiga faktor tersebut di awal abad lalu telah terjadi transformasi dunia secara masif dan berujung pada konflik-konflik di seluruh dunia.
“Muncul kesadaran nasionalisme di negara-negara jajahan yang menggugat kolonialisme. Muncul pula gerakan-gerakan sosialisme di negara-negara penjajah yang menggugat kapitalisme.