Sebagai seniman yang berlatar seni tradisi, Subono memperluas ruang kreativitasnya pada dua dimensi budaya yakni tradisi dan budaya masa kini.
Selain mendalang, Subono juga mengajar di kampus tempat ia belajar itu. Ia di lingkungan para dalang terkenal sebagai sosok yang multitalenta.
Sebab, Bono memiliki keahlian dalam menggarap tata musik, tata naskah, hingga tata wayang dalam sebuah lakon pewayangan.
Ia sangat piawai merancang konstruksi jalinan suara gending-gending masa lalu ke dalam wacana karakteristik baru yang lebih dramatis.
Ragam inovasinya diterapkan dalam karya-karyanya, contohnya garapan gending pakeliran baru pada Wayang Kancil, Wayang Sandosa, Wayang Wahyu, dan Wayang Multimedia.
Karenanya Subono lantas dijuluki dengan ‘pengrawit edan’ oleh kawan sesama seniman.
Selain karya-karya tersebut, Subono juga menggarap penataan gending untuk berbagai seniman kondhang, seperti dalang Ki Mantep Sudharsono, Ki Anom Suroto–seniman tari Sardono W. Kusumo, Retno Maruti, Elly dan Deddy Luthan.
Berkat kiprahnya yang luar biasa dalam seni tradisional Subono dianugerahi Satya Lencana Budaya dari Lembaga Kebudayaan Jawa, Anugerah Seni dari Mendikbud RI (1996).
Hingga akhir hayatnya Subono setia mengajar seni pedalangan di almamaternya, Institut Seni Indonesia Surakarta.***