nasional

Meminta Wartawan Menjaga Kualitas, Buka Sekolah Jurnalisme Indonesia, Nadiem Makarim: Kita Berkompetisi dengan AI

Selasa, 6 Februari 2024 | 12:15 WIB
Ketua PWI Jabar menyerahkan cinderamata ke Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Ristek Nadiem Anwar Makarim didamping PJ Gubernur Jabar Bey Machmudin (PWI)

TITIKTEMU.CO, BANDUNG - Perkembangan teknologi tak dipungkiri berdampak besar terhadap perkembangan jurnalistik. Terlebih berkembangnya teknologi termasuk kecerdasan buatan, memaksa jurnalis untuk beradaptasi.

Namun dalam kondisi yang disruptif seperti saat ini, bukan alasan untuk menurunkan kualitas jurnalisme di Indonesia. Jurnalis harus berintegritas, kritis, dan menulis menggunakan hati nurani, sesuatu yang tak bisa dilakukan kecerdasan buatan alias Articial Intelegence (AI).

Baca Juga: 16 Lowongan Kerja Menarik di Trans 7 Terbaru Februari 2024: Dibuka Hingga 31 Maret 2024, Cek LINK Formasi dan Pendaftaran DISINI…

Baca Juga: Bank BRI Buka Lowongan Kerja Berbagai Posisi untuk S1, Tutup 25 Januari 2024

Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Anwar Makarim menyebut dunia jurnalisme saat ini tengah bersaing dengan Artificial Intelegence (AI) atau kecerdasan buatan.

Hal itu disampaikan Nadiem dalam sambutannya di pembukaan Sekolah Jurnalisme Indonesia (SJI) Kelas Muda Angkatan pertama, Selasa (5/2/2024) di Sekretariat PWI Jawa Barat, Jalan Wartawan, Lengkong, Kota Bandung. Dalam momen itu, Nadiem pun berpesan agar para wartawan tetap menjaga kualitas jurnalisme di tengah disrupsi informasi.

Baca Juga: Terima Dukungan Pengusaha Properti, TKN: Prabowo Akan Bangun 3 Juta Rumah untuk Rakyat Miskin

“Tentunya teknologi telah merubah segala aspek daripada sektor jurnalisme. Disruptif kondisinya. Tapi itu bukan alasan untuk menurunkan kualitas jurnalisme. Kita harus berkompetisi dengan AI sekarang. Kita harus berintegritas, berpikiran kritis, kita harus menulis dengan hati nurani, karena itu yang tidak dimiliki oleh mesin kecerdasan buatan,” kata Nadiem.

Nadiem mengaku sempat dibuat pusing oleh beberapa publikasi berita online atau daring yang mengasumsikan bahwa dirinya sebagai pembaca yang sedang mengikuti isu tertentu. Di sisi lain, ia baru membaca isu yang tengah mencuat. Menurut Nadiem, publikasi media The Economist yang menurutnya lebih enak untuk dibaca.

Baca Juga: Pengaduan Meningkat, Dewan Pers: Media Harus Menjaga Kehidupan Pers yang Sehat, Tingkatkan Profesionalisme

“Itu setiap orang dijelaskan, bahkan orang tekenal pun dijelaskan siapa dia. Seolah-olah pembaca tidak mengetahui hal itu. Itu adalah standar jurnalisme yang perlu diterapkan, sehingga masyarakat pun naik tingkat literasinya. Sekarang misinformasi, disinformasi menjadi sangat rentan di masyarakat, karena tidak ada standar penulisan yang komprehensif dan integritas yang kuat,” ungkapnya.

Sementara itu, Ketua PWI Pusat, Hendri Ch Bangun menyebut SJI merupakan lanjutan dari program yang sebelumnya sudah digagas tahun 2016 lalu. Menurutnya, SJI merupakan program peningkatan kompetensi dan wawasan yang sesuai dengan perkembangan zaman. Apalagi menurutnya, SJI adalah ikon dari PWI yang sudah berjalan sejak lama.

Baca Juga: Kini Naik Whoosh Lebih Murah. Dengan Tarif Dinamis Harga Tiket Kereta Cepat Jakarta-Bandung Mulai Rp150 Ribu

“Pada saat itu, pertama kali diadakan di Palembang tahun 2010 dengan pemberi kuliah pertama Presiden SBY. Untuk kali ini, multitasking jurnalisme menjadi andalan. Termasuk berpikir kritis, berwawasan kebangsaan, dan menjaga integritas,” ungkap Hendri.***

Tags

Terkini