Kota Ini Tidak Punya Mall — dan Warganya Justru Lebih Bahagia

photo author
Leihana, TitikTemu.co
- Minggu, 28 Juni 2026 | 20:47 WIB

 

TITIKTEMU.CO-Bagi banyak orang kota, sulit membayangkan kehidupan tanpa pusat perbelanjaan. Mall bukan hanya tempat belanja, tetapi juga lokasi nongkrong, makan, hiburan, hingga pelarian saat akhir pekan. Namun menariknya, ada daerah di Indonesia yang praktis tidak memiliki mall besar modern, dan kualitas hidup warganya justru tergolong baik.

Fenomena kota tanpa mall ini memunculkan pertanyaan yang cukup menggelitik: apakah semakin banyak tempat belanja benar-benar membuat orang lebih bahagia?

Di tengah kejenuhan masyarakat urban terhadap gaya hidup konsumtif, jawabannya ternyata tidak sesederhana yang selama ini kita bayangkan.

Baca Juga: Apa yang Terjadi Setelah Orang Jakarta Pindah ke Kota Kecil? Ini 12 Bulan Pertamanya

Kota Tanpa Mall, Tetapi Kehidupan Sosial Tetap Hidup

Jika melihat berbagai daerah di Indonesia, masih banyak kota kecil yang belum memiliki pusat perbelanjaan modern berskala besar. Aktivitas masyarakat lebih banyak berpusat di pasar tradisional, ruang terbuka, lapangan kota, taman, atau pusat kegiatan komunitas.

Alih-alih menghabiskan akhir pekan dengan berkeliling toko, warga cenderung menghabiskan waktu bersama keluarga, menghadiri acara lokal, berolahraga, atau sekadar bersosialisasi dengan tetangga.

Data kesejahteraan sosial dari publikasi Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa kualitas hidup masyarakat tidak semata-mata ditentukan oleh akses terhadap fasilitas konsumsi modern. Faktor seperti hubungan sosial, keamanan lingkungan, kesehatan, dan rasa kebersamaan memiliki pengaruh yang tidak kalah penting.

Baca Juga: Kota Paling Ramah Pejalan Kaki di Indonesia — Versi Data

Mengapa Belanja Tidak Selalu Membuat Bahagia?

Banyak orang pernah merasakan sensasi membeli barang baru. Rasanya menyenangkan, tetapi sering kali hanya bertahan sebentar.

Fenomena ini telah lama diteliti oleh para psikolog. Penelitian yang dipopulerkan oleh Dunn dan Norton menunjukkan bahwa peningkatan konsumsi tidak selalu berbanding lurus dengan peningkatan kebahagiaan jangka panjang.

Manusia memiliki kecenderungan untuk cepat beradaptasi terhadap barang yang dimiliki. Setelah euforia awal menghilang, tingkat kepuasan biasanya kembali ke titik semula. Karena itulah muncul istilah hedonic adaptation, yaitu kondisi ketika sesuatu yang dulu terasa istimewa akhirnya menjadi hal biasa.

Akibatnya, seseorang terus mencari pembelian berikutnya untuk mendapatkan sensasi yang sama.

Baca Juga: Burnout Epidemic: Kenapa Kota Besar Bukan Lagi Jawaban

Yang Membuat Orang Bahagia Ternyata Bukan Barangnya

Menariknya, penelitian psikologi menemukan bahwa pengalaman dan hubungan sosial sering memberikan dampak kebahagiaan yang lebih tahan lama dibanding kepemilikan barang.

Makan bersama keluarga, mengikuti kegiatan komunitas, bermain dengan anak, atau menikmati waktu santai bersama teman cenderung meninggalkan kenangan yang lebih kuat daripada membeli produk baru.

Inilah alasan mengapa masyarakat di beberapa kota yang tidak terlalu bergantung pada budaya mall tetap dapat merasakan tingkat kepuasan hidup yang tinggi.

Mereka mungkin memiliki lebih sedikit pilihan toko, tetapi sering kali memiliki lebih banyak interaksi sosial yang bermakna.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Leihana

Sumber: Berbagai Sumber

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X