Sang Ibu, Verawati, memarahi dan pura-pura menelepon polisi. Nugrah ketakutan dan mengakui kesalahannya. Ia pun meminta maaf kepada asisten rumah tangganya.
Baca Juga: Bupati Wonogiri: Sekolah Jangan Mewajibkan Siswa Beli Seragam Baru!
Baik jekek maupun Verawati tidak pernah tahu anaknya suka menulis. Sang ibu justru kaget saat Nugrah menyodorkan berlembar-lembar tulisannya.
Setelah membaca tulisannya, Verawati tahu kalau anaknya memiliki bakat menulis. Verawati dan Jekek pun setuju saat Nugrah ingin membukukan tulisannya itu.
Jekek menyadari tulisan-tulisan Nugrah itu sebagai bentuk protes. Sejak itu, kata Jekek, dia berusaha menciptakan quality time, dan berusaha menyenangkan hati Nugrah.
Baca Juga: Angka Kematian Akibat Covid-19 di Wonogiri Tembus 1.000, Apa yang Salah?
"Kalau sama ibunya biasanya makan diatur oleh Verawati. Begitu ayahnya datang dilanggar semua. Minta mainan ya oke, makan ya oke,” ujar Jekek.
Namun, menurut Jekek, saat ini emosi Nugrah sudah lebih baik. Dia mulai mengerti kesibukan ayahnya sebagai bupati.
“Awalnya memang sempat kaget. Saya juga sempat merenung, nggak enak juga diprotes anak sendiri. Lalu kita cari solusi bersama,” jelas Jekek.***