internasional

Mojtaba Khamenei Jadi Pemimpin Tertinggi Iran, Sosok Kontroversial yang Dibenci AS

Senin, 9 Maret 2026 | 19:05 WIB
Mojtaba Khamenei Jadi Pemimpin Tertinggi Iran, Sosok Kontroversial yang Dibenci AS. (Tasnim News )

Selama bertahun-tahun ia disebut sebagai orang kepercayaan ayahnya dan memiliki hubungan erat dengan aparat keamanan negara.

Salah satu kekuatan utamanya adalah kedekatan dengan Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC), organisasi militer paling berpengaruh di Iran.

Hubungan tersebut membuat Mojtaba memiliki pengaruh luas dalam jaringan politik, militer, dan keamanan negara.

Sejumlah sumber menyebut dia berperan sebagai “penjaga gerbang” yang mengontrol akses terhadap Ali Khamenei. Melalui posisi tidak resmi ini, Mojtaba diyakini turut memengaruhi banyak keputusan penting.

Baca Juga: Konflik Timur Tengah Memanas, Investor Disarankan Diversifikasi Aset Safe Haven 

Peran Penting dalam Politik Iran

Dalam sistem politik Iran, pemimpin tertinggi memiliki kekuasaan yang sangat besar. Jabatan tersebut menentukan arah kebijakan luar negeri, strategi militer, hingga program nuklir negara.

Selama ini negara-negara Barat terus menekan Iran agar menghentikan pengembangan senjata nuklir. Namun pemerintah Iran menegaskan program nuklir mereka untuk kepentingan energi dan teknologi sipil.

Dengan latar belakang garis keras yang dimilikinya, banyak pengamat memperkirakan kebijakan Iran di bawah Mojtaba tidak akan jauh berbeda dari era kepemimpinan ayahnya.

Baca Juga: Update Perang AS–Israel vs Iran: Lebih dari 1.300 Orang Tewas di Teheran, Dunia Soroti Konflik yang Memanas 

Latar Belakang Mojtaba Khamenei

Mojtaba Khamenei lahir pada tahun 1969 di kota suci Syiah Mashhad. Ia tumbuh di tengah pergolakan politik Iran pada masa akhir pemerintahan Shah.

Ayahnya termasuk tokoh penting yang memimpin gerakan oposisi terhadap monarki yang akhirnya digulingkan dalam Iranian Revolution.

Saat masih muda, Mojtaba pernah bertugas dalam perang antara Iran dan Irak pada dekade 1980-an.

Setelah itu ia menempuh pendidikan agama di seminari-seminari kota Qom, yang dikenal sebagai pusat pendidikan teologi Syiah. Ia kemudian memperoleh gelar ulama dengan pangkat Hojjatoleslam.

Halaman:

Tags

Terkini