internasional

Dari Kapel Sistina ke Takhta Suci: Mengungkap Proses Pemilihan Paus dalam Tradisi Konklaf

Kamis, 8 Mei 2025 | 14:01 WIB
Padre Marco SVD, Vatikan (Dok. Kemenag )

Baca Juga: PSG Lolos ke Final Liga Champions Usai Singkirkan Arsenal: Donnarumma Bersinar, Saka Gagal Menyelamatkan The Gunners

Tahapan Pemungutan Suara

Setiap kardinal menuliskan nama kandidat pilihannya pada surat suara bertuliskan Eligo in Summum Pontificem.

Surat suara tersebut kemudian dilipat dan dimasukkan ke dalam piala di depan altar.

Setelah semua suara terkumpul, tiga kardinal yang ditunjuk menghitung dan memverifikasi hasilnya.

Baca Juga: 7 Smartphone Terbaru 2025 yang Resmi Rilis di Indonesia: HP Kamera 200 Megapixel, Ada Skor Antutu Mencapai 243.000 Poin

Jika belum ada kandidat yang memperoleh dua pertiga suara, surat suara dibakar dengan bahan kimia yang menghasilkan asap hitam, menandakan belum terpilihnya Paus baru.

Sebaliknya, asap putih menandakan bahwa Paus baru telah terpilih.

Baca Juga: Paus Fransiskus dan Pilihan Hidup Tanpa Gaji: Keteladanan yang Langka di Era Modern

Pengumuman Paus Baru

Setelah terpilih, Paus baru ditanya apakah menerima pemilihan tersebut dan nama yang akan digunakan selama masa kepausannya.

Kemudian, ia mengenakan pakaian kepausan dan berdoa di camera lacrimatoria, sebuah ruangan khusus untuk refleksi pribadi.

Beberapa saat kemudian, Paus baru muncul di balkon Basilika Santo Petrus untuk memberikan sambutan pertama kepada umat Katolik di seluruh dunia.

Baca Juga: Dugaan Korupsi Proyek Satelit Kemenhan: Kerugian Negara Capai Rp353 Miliar

Pengumuman ini diawali dengan pernyataan "Habemus Papam!" yang berarti "Kita memiliki Paus!".

Halaman:

Tags

Terkini